Mohon perhatiannya, semua isi berita diblog ini adalah disalin dari berbagai sumber. Dan hanya sebagai arsip pribadi dan Group Komunitas Warga Kulon Progo.

Seluruh informasi termasuk iklan diblog ini bukan tanggung jawab kami selaku pemilik blog. Kami hanya Memberikan tempat kepada para pengiklan dan sebagai ,media sharing


 tarif jasa kami
KEMBALI KE HALAMAN AWAL – LC FOTOKOPI  *  TARIF JASA FOTOKOPI, PRINT, SCAN, KETIK, PRINT , DLL.   *   MELAYANI PRINT, PRINT COPY SECARA ONLINE


23 August 2018

Tiket Masuknya Cuma Rp 3 Ribu, Yuk Nikmati Asrinya Air Terjun ...



TRIBUN JOGJA/ Gilang Satmaka


TRIBUNTRAVEL.COM - Air Terjun Kedung Pedut merupakan wisata alam yang cukul terkenal di Kulonprogo.

Obyek wisata alam tersebut juga dikenal oleh para wisatawan karena keindahan warna airnya.

Warna air yang sangat cantik terdiri dari dua komponen warna yaitu putih jernih dan hijau.


Warna putih jernih terjadi karena aliran air deras yang berasal dari air terjun di samping kedung ini.

Warna hijau tosca terbentuk dari pantulan batuan di dasar sungai yang terpancar sinar matahari.

Di samping kedung juga terdapat beberapa tempat istirahat untuk para wisatawan yang terbuat dari bambu sehingga menambah kesan alami dari tempat ini.

Air Terjun Kedung Pedut (TRIBUN JOGJA/ Gilang Satmaka)

Rute menuju tempat wisata Air Terjun Kedung Pedut tidaklah sulit.

Wisata tersebut tepatnya berlokasi di Kembang, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo.

Untuk tiket masuk, pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp3.000/orang

Sementara tiket parkir motor sebesar Rp2.000/unit dan parkir mobil Rp5.000/unit. (TribunJogja/Hanin Fitria)


Artikel ini telah tayang di Tribuntravel.com dengan judul Tiket Masuknya Cuma Rp 3 Ribu, Yuk Nikmati Asrinya Air Terjun Kedung Pedut di Kulonprogo, 

Share:

Ramai-ramai Warga Bersihkan Jeroan Hewan Kurban di Sungai ...

Warga mencuci jeroan binatang kurban, sapi maupun kambing, di Sungai Serang, Kulon Progo. Tidak hanya anak muda dan orang tua, banyak sekali anak-anak terlibat membersihan jeroan di sungai ini.

KULON PROGO, KOMPAS.com - Banyak kelompok warga mendadak muncul di aliran Sungai Serang yang masuk dalam wilayah Kota Wates, Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Mereka rupanya sibuk mencuci jeroan atau isi dari perut hewan- hewan kurban.

Tidak hanya pria dewasa dan pemuda, tapi anak-anak usia pelajar tampak gembira melibatkan diri dalam kegiatan ini.

Aktivitas kelompok-kelompok warga itu terlihat dari Jembatan Putih, sebutan warga setempat, di Jalan Pahlawan, Dusun Wonosidi Kidul, Wates, Kulon Progo, sampai di kejauhan.

"Habis dari potong kurban, warga bawa jeroan ke sungai sini. Kebanyakan usus yang dibersihkan," kata Parno, 36 tahun, sambil menyaksikan teman-temannya dari tepi sungai, Rabu (22/8/2018).


Warga kemudian membawa jeroan hewan-hewan kurban itu ke tepi Sungai Serang tidak jauh dari tempat menyembelih. Mereka mencucinya di sana.

"Sudah biasa. Tahun yang lalu juga begitu. Setelah dicuci, dibagi," kata Parno.

Rupanya banyak kelompok warga lain di Sungai Serang sepanjang pagi hingga siang tadi. Mereka datang dari tempat-tempat penyembelihan hewan kurban.

Di situ, mereka berendam di air sungai setinggi sekitar 100 sentimeter sambil membersihkan jeroan..

Seorang warga asal Wonosidi bernama Wahyu CM mengatakan, jeroan yang ia bersihkan berasal dari hewan kurban yang disembelih di Masjid Masfa, tak jauh dari sungai.


Warga mencuci jeroan binatang kurban, sapi maupun kambing, di Sungai Serang, Kulon Progo. Tidak hanya anak muda dan orang tua, banyak sekali anak-anak terlibat membersihan jeroan di sungai ini.(https://buff.ly/WlXVd6 Dani J)
 
Warga mencuci jeroan binatang kurban, sapi maupun kambing, di Sungai Serang, Kulon Progo. Tidak hanya anak muda dan orang tua, banyak sekali anak-anak terlibat membersihan jeroan di sungai ini.

Sebanyak 8 sapi dan 4 kambing disembelih di sana. Wahyu dan kawan-kawannya membawa jeroan ke Sungai Serang di bawah Jembatan Putih. Mereka bertugas membersihkan jeroan itu di sungai.

"Tidak ada tempat (bersihkan jeroan di masjid). Setelah dari sini (sungai) nanti dibilas di masjid lalu dibagikan," kata Wahyu.

Beberapa anak tampak berada di pinggir sungai bertugas membalur jeroan yang sudah bersih dengan kapur sirih. Jeroan lantas dibilas lagi di sungai.

"Kapur ini untuk merontokkan kotoran, gajih, lemak. Kalau tidak dilabur dengan kapur ini tidak bersih," kata Rivan, warga Wonosidi Kidul.

Kegembiraan warga terlihat sepanjang hari mereka membersihkan jeroan di sungai.

Dimasak lebih lama

Kepala UPTD Pusat Kesehatan Hewan Wilayah Selatan Kulon Progo, Drh Eko Sulistyadi mengatakan, ada banyak risiko mencuci jeroan di sungai, di antaranya kontaminasi bakteri e-coli.

Bakteri ini bisa mengakibatkan infeksi usus serius yang mengakibatkan diare, sakit perut, dan demam.

Eko mengharapkan warga yang ingin mengonsumsi jeroan nanti perlu memasak hingga benar matang.

"Kita matikan bakteri e-coli. Kalau tidak dimatikan bisa kena diare. Memasaknya di suhu sampai 90 derajat atau sekitar 20 menit," kata Eko.

Pemerintah sebenarnya rutin menyosialisasi cara penanganan daging dan bagian-bagiannya secara higienis, utamanya untuk hari raya kurban. Ia meyakini kesadaran warga berangsur semakin baik dari waktu ke waktu.

Ia mengatakan, dalam 3 tahun penyuluhan, sudah cukup banyak perubahan perilaku warga.

"Dulu memotong sambil merokok, sekarang sudah tidak ada. Perlu memanfaatkan alas untuk hewan yang dipotong, sekarang sudah pakai plastik. Membawa daging pakai tas plastik transparan. (Peningkatan kesadaran) perlu proses dan waktu," kata Eko.

Ke depan, pihaknya berharap kesadaran warga membaik dalam menangani jeroan secara higienis, tidak lagi di sungai.

"Harusnya dicuci di air mengalir, seperti air keran. Bukan sungai mengalir," kata Eko. 

Ia mengatakan, sosialisasi dari kantornya banyak berlangsung pada warga di wilayah kerjanya di Kecamatan Temon, Panjatan, Galur, dan Wates. Semua ini dilaksanakan agar penanganan daging di masyarakat lebih baik dari waktu ke waktu.


PenulisKontributor Yogyakarta, Dani Julius Zebua
EditorDian Maharani” https://regional.kompas.com/read/2018/08/22/20450641/ramai-ramai-warga-bersihkan-jeroan-hewan-kurban-di-sungai-

Ramai-ramai Warga Bersihkan Jeroan Hewan Kurban di Sungai ... KOMPAS.com
Kebiasaan Buruk Cuci Jeroan di Sungai Masih Terjadi di Kulonprogo Tribun JogjaFull coverage








Baca Selengkapnya pada https://ift.tt/2w3MJNV

Kulon progo - Google News
Share:

DPT Kulonprogo Menurun



Tribun Jogja/ Suluh Pamungkas

TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kulonprogo menetapkan jumlah pemilih untuk Pemilihan Umum (Pemilu) 2019 di kabupaten tersebut sebanyak 334.153 orang.

Angka ini terbilang lebih banyak dari Daftar Pemilih Tetap (DPT) untuk Pemilu 2014 maupun Pilkada 2017.

Penetapan DPT untuk Pemilu 2019 ini telah dilakukan KPU Kulonprogo pada Senin (20/8/2018) lalu setelah rapat pleno terbuka rekapitulasi daftar pemilih sementara hasil perbaikan (DPS-HP).

Dari DPT sejumlah 334.153 orang itu, jumlah pemilih laki-laki sebanyak 162.553 orang dan perempuan 171.600 orang.

Adapun dalam DPS-HP sebelumnya terdapat 334.682 pemilih yang terdiri atas pemilih laki-laki 162.810 orang dan perempuan 171.872 orang.

"Ada penurunan 529 pemilih yang masuk ke DPT dari DPS-HP," jelas Ketua KPU Kulonprogo, Muh Isnaini, Rabu (22/8/2018).

Angka DPT itu lebih sedikit dibanding Pemilu tahun-tahun sebelumnya.

Pada Pemilihan Bupati dan Wakil Bupati (Pilbup) Kulonprogo 2017 lalu, DPT mencatat sebanyak 332.211 pemilih.

Sedangkan pada Pemilu Legislatif 2014 DPT mencakup 335.897 pemilih serta pada Pemilihan Presiden dan Wakil Presiden (Pilpres) 2014 sebanyak 335.805 pemilih.

Jumlah pemilih terbanyak dalam DPT Pemilu 2019 ini berada di Kecamatan Pengasih yakni 38.726 orang dari 7 desa dengan 139 tempat pemungutan suara (TPS).
Share:

Sengketa Lahan Bandara Kulon Progo, Pemilik Lahan Laporkan ...


Pembangunan konstruksi Bandara Internasional Kulon Progo. [Angkasa Pura]


[JAKARTA] Ahli waris tanah Bandara New Yogyakarta Internasional Airport (NYIA), Suwarsi dan adik-adiknya melaporkan Koes Siti Marlia dan kawan-kawan ke Badan Reserse dan Kriminal Polri, Selasa (21/8).

Koes Siti Marlia dan kawan-kawan dianggap telah bersekongkol dengan Paku Alam X mengklaim sebagai yang berhak atas ganti rugi lahan untuk pembangunan Bandara NYIA yang diduga dengan menggunakan data palsu dengan cara menggelapkan asal-usul ahli waris dam pemilikan tanah yang sebenarnya.

Laporan itu dilakukan melalui kuasa hukum Suwarsi dan adik-adiknya, Petrus Selestinus dan Bambang Hadi Supriyanto. Laporan mereka teregistrasi dengan Laporan Polisi No. : LP/B/1026/VIII/2018/Bareskrim, tanggal 21 Agustus 2018.

"Koes Siti Marlia dkk dan Pali Alam X yang mengaku-ngaku sebagai pemilik yang berhak menerima uang ganti rugi itu, padahal dia bukan pilik tanah," kata Petrus Selestinus dan Bambang Hadi Supriyanto usai membuat laporan di Bareskrim Polri, Selasa (21/8).

Menurut Petrus, uang sebesar Rp 700 miliar sebagai ganti rugi atas pembebasan lahan itu dikonsinyasi oleh pihak Angkasa Pura di Pengadilan Negeri Wates, karena adanya sengketa pemilikan tanah antara Suwarsi dkk melawan Paku Alam X (Wakil Gubernur Yogyakarta) dan PT. Angkasa Pura di Pengadilan Negeri Yogyakarta, saat ini sedang dalam tingkat banding di Pengadilan Tinggi Yogyakarta.

Namun yang mengherankan, kata Petrus, adalah pada saat perkara pemilikan tanah masih berlangsung di pengadilan, uang ganti rugi sebesar Rp 701 miliar yang dikonsinyasi oleh Perum Angkasa Pura di PN Wates, oleh Ketua PN Wates uang konsinyasi sebesar Rp 701 miliar itu ternyata sudah dicairkan dan diserahkan ke Paku Alam X, pada tanggal 5 Juni 2018.

Padahal sengketa pemilikan masih berlangsung. "Akibat sengketa kepemilikan tanah antara ahli waris dari Pembayun Waluyo yaitu Ibu Suwarsih dkk melawan Paku Alam X dan Angkasa Pura, maka uang konsinyasi itu sejarusnya tidak boleh dicairkan oleh siapa pun, kecuali atas Penetapan Ketua Pemgadilan Negeri Wates uang itu dicairkan karena semgketa sudah berakhir dan Putusan Pengadilan dinyatakan sudah berkekuatan hukum tetap, yang menyatakan siapa yang berhak,” kata Petrus.

Karena itu, kata Petrus, ia akan membongkar permainan antara Ketua Pengadilan Negeri Wates, Paku Alam X dan Pimpinan Angkasa Pura, karena tidak sabar menunggu putusan pengadilan berkekuatan hukum tetap dan tidak menghargai proses hukum dan tidak memghormati Peraturan Presiden,” kata dia.

Petrus menyayangkan, sikap Ketua Pengadilan Negeri Wates, karena telah mencairkan uang konsinyasi secara prematur, melanggar hukum dan di luar wewenang Ketua Pengadilan Negeri Wates dan meminta agar Ketua Mahkamah Agung memecat Ketua Pengadilan Negeri Wates.

Selain itu, Petrus meminta agar Paku Alam X, Angkasa Pura dan Ketua PN Wates segera mengembalikan uang Rp 701 miliar tersebut ke dalam Rekening Bendahara Pengadilan Negeri Wates, dalam status konsinyasi dalam waktu 7 x 24 jam. “Jika tidak maka maka akan diperkarakan termasuk dilaporkan ke Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan instansi penegak hukum lainnya,” kata dia. [E-8] 

Artikel ini disalin dari Sumber :Sengketa Lahan Bandara Kulon Progo, Pemilik Lahan Laporkan ... Suara Pembaruan
Share:

22 August 2018

Idul Adha, Kemenag Ajak Masyarakat Kulonprogo Jaga Kerukunan


ilustrasi


KULONPROGO, iNews.id - Kementerian Agama (Kemenag) meminta masyarakat untuk tidak mempermasalahkan adanya nilai perayaan Hari Raya Idul Adha. Semuanya harus menjaga kerukunan dan perbedaan yang ada karena masing-masing memiliki Hari Raya Kurban.

"Tidak ada masalah yang penting untuk menghormati dan menjaga kerukunan Muslim," kata Kepala Kementerian Agama Kulonprogo, Nurudin.

Dia menjelaskan, meskipun pemerintah sudah menentukan Hari Raya Idul Adha pada hari ini, Rabu (22/8/2018). Umar Islam Islam Kulon Progo telah melakukan salat Idul Adha di Lapangan Triharjo, Wates, dengan imam dan khatib Sholikhul Hadi dari Pondok Pesantren Darul Ulum Lendah, pada Selasa (21/8/2018) kemarin.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo juga meminta masyarakat untuk saling menghargai. Baginya perbedaan penentuan Hari Raya Idul Adha dulu. "Harus saling menghormati, itu prinsip dalam menyikapi angka ini," ujar Hasto.

Dia pun mengakui, masyarakat memiliki keandalan yang tinggi dalam menyikapi kemiskinan tersebut. Bahkan Majelis Ulama Indonesia (MUI) juga telah mengeluarkan angka-angka itu. "Tidak ada masalah yang berbeda, setiap tahun selalu ada," katanya.

Editor: Muhammad Saiful Hadi
Share:

Idul Adha, Khatib Ajak Umat Islam di Kulonprogo Teladani Nabi ...



Umat Islam melaksanakan salat Idul Adha di alun-alun Wates, Kulonprogo, DIY. (Foto: iNews.id/Kuntadi

KULONPROGO, iNews.id – Ribuan umat Islam di Kabupaten Kulonprogo, DIY, melaksanakan ibadah salat Idul Adha di alun-alun Wates tepat pada pukul 06.30 WIB. Ibadah yang telah dipersiapkan oleh Panitia Hari Besar Islam (PHBI) Kulonprogo sejak H-1 berlangsung khidmat.

“Setiap tahun saya pasti melaksanakan salat di sini. Baik Idul Adha maupun Idul Fitri,” kata salah seorang jamaah salat Idul Adha, Wahyu Hidayat, Rabu (22/8/2018).

Sementara itu dalam khotbahnya, Abdul Rahman yang juga merangkap sebagai imam salat mengajak para jamaah untuk senantiasa bertakwa dan mensyukuri nikmat dan karunia dari Allah SWT. Selain itu sebagai salah satu bentuk rasa syukur kepada Allah, kaum muslim juga dianjurkan untuk menunaikan ibadah kurban.

“Umat Islam harus menaati perintah Allah dan meneladani Nabi Ibrahim AS sebagai wujud syukur akan nikmat Allah yang tak terhingga,” ujar Rahman.

Dia mengatakan kisah Nabi Ibrahim AS sangat menginpirasi umat Islam karena dia rela melakukan apapun sebagai bentuk kepatuhan kepada Allah SWT, termasuk menyembelih anaknya yaitu Nabi Ismail AS. Karena Nabi Ibrahim sangat bertakwa, dia akhirnya mengikuti perintah Allah SWT untuk menyembelih buah hati yang telah dinantikannya.

Untuk diketahui Nabi Ismail AS merupakan anak dari istri kedua Nabi Ibrahim AS bernama Siti Hajar. Sebelum menikah dengan Siti Hajar, Nabi Ibrahim AS sudah menikah dengan Siti Sarah namun tidak diberikan keturunan. Dengan alasan Nabi Ibrahim AS tidak mempunyai penerus, Siti Sarah kemudian memintanya untuk menikah lagi dengan Siti Hajar.

“Nabi Ibrahim AS tidak langsung menyembelih tapi bermunajat terlebih dahulu meminta petunjuk. Setelah dia yakin akhirnya mengajak anaknya untuk disembelih. Namun pada saat Nabi Ibrahim akan menyembelih Nabi Ismail, Allah SWT kemudian menggantinya dengan seekor domba. Kisah inilah yang kemudian menjadi dasar umat Islam untuk berkurban,” ujarnya.

Rahman menjelaskan banyak sekali prinsip hidup yang bisa dipelajari dari kehidupan Nabi Ibrahim dan keluarganya. Setidaknya, kata dia, ada empat prinsip hidup yang harus diwujudkan dalam kehidupan. “Pertama, senantiasa berdoa kepada Allah SWT. Doa bukan hanya menunjukkan kita merendahkan diri kepada Allah. Tetapi memang kita merasa betul-betul memerlukan bantuan dan pertolongan-Nya,” kata dia.

Prinsip hidup kedua yaitu umat muslim harus memiliki semangat berusaha semaksimal mungkin, sesulit apapun keadaannya peluang mendapatkan hasil tetap terbuka lebar. “Siti Hajar telah membuktikan kepada kita betapa ia begitu tegar meski tinggal di Baitul Haram. Dia yang merupakan istri kedua Nabi Ibrahim AS yang harus tinggal di tempat yang gersang karena permintaan istri pertama bernama Siti Sarah,” ujarnya.

Menurutnya, meski berada tempat yang sangat tandus dan panas Siti hajar tidak lantas menyerah. Dia berlari dari bukit Shafaa ke bukit Marwa sebanyak tujuh kali untuk mencari makanan dan minuman berharap bertemu orang yang akan membantunya. Namun dia tidak menemukan sesuatu yang bisa di minum dan dimakan.

“Namun di tengah kebingungan dan kegelisahan merasuki hati dan pikirannya, Allah menunjukkan kebesarannya. Dari bawah kaki anaknya Ismail yang sedang menangis kehausan, muncul sumber mata air yang kini dikenal sebagai mata air Zam-Zam,” kata dia.

Kemudian, kata dia, prinsip hidup ketiga yaitu memiliki hati yang bersih dan tajam. Hati menjadi kotor dan tumpul bila manusia selalu berbuat sesuatu yang dilarang oleh Allah SWT. “Oleh karena itu maka jalan terbaik adalah bertaubat sehingga manusia kembali bersih,” ujarnya.

Menurutnya, prinsip hidup yang terakhir yakni tidak menyombongkan diri atas kebaikan yang dilakukan. Karena dalam kehidupan manusia, biasanya banyak orang yang merasa paling baik. “Marilah kita bermunajat kepada Allah agar hidup di dunia ini senantiasa berada di jalan-Nya, beribadah dan menjalankan tugas kekhalifahan dalam bimbingan-Nya. Serta di akhirat kelak menjadi penghuni Jannatun Naim,” katanya.


Editor : Muhammad Saiful Hadi


Baca Selengkapnya pada  Idul Adha, Khatib Ajak Umat Islam di Kulonprogo Teladani Nabi ... iNews
Share:

21 August 2018

Singgah dan Nikmati Asrinya Air Terjun Kedung Pedut Kulonprogo ...



Tribun Jogja/Gilang Satmaka


TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Air Terjun Kedung Pedut merupakan wisata alam yang cukul terkenal di Kulonprogo.

Obyek wisata alam tersebut juga dikenal oleh para wisatawan karena keindahan warna airnya.



Warna air yang sangat cantik terdiri dari dua komponen warna yaitu putih jernih dan hijau.


Warna putih jernih terjadi karena aliran air deras yang berasal dari air terjun di samping kedung ini.
Warna hijau tosca terbentuk dari pantulan batuan di dasar sungai yang terpancar sinar matahari.

Di samping kedung juga terdapat beberapa tempat istirahat untuk para wisatawan yang terbuat dari bambu sehingga menambah kesan alami dari tempat ini.

Rute menuju tempat wisata Air Terjun Kedung Pedut tidaklah sulit.

Wisata tersebut tepatnya berlokasi di Kembang, Desa Jatimulyo, Kecamatan Girimulyo, Kulonprogo.



Untuk tiket masuk, pengunjung akan dikenakan tarif sebesar Rp3.000/orang

Sementara tinet parkir motor sebesar Rp2.000/unit dan parkir mobil Rp5.000/unit. (*)


Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Singgah dan Nikmati Asrinya Air Terjun Kedung Pedut Kulonprogo, Ini Rute dan Harga Tiketnya, http://jogja.tribunnews.com/2018/08/20/singgah-dan-nikmati-asrinya-air-terjun-kedung-pedut-kulonprogo-ini-rute-dan-harga-tiketnya.
Penulis: Hanin Fitria
Editor: ton
Share:

KPU Tetapkan DPT Pemilu 2019 Kulonprogo 334.153 Orang


Selasa, 21 Agustus 2018 / 04:48 WIB
Editor : Agus Sigit



Pelaksanaan penetapan DPT Pemilu 2019. (Foto: Widiastuti)


WATES, KRjogja.com - Komisi Pemilihan Umum (KPU) Kabupaten Kulonprogo menetapkan Daftar Pemilih Tetap (DPT) Pemilu 2019 sebanyak 334.153 orang dalam rapat pleno terbuka rekapitulasi daftar pemilih sementara hasil perbaikan (DPS-HP) akhir dan penetapan DPT, Senin (20/08/2018), di Aula Adikarto (Gedung Kaca). Penetapan DPT dihadiri komisioner KPU Kulonprogo beserta jajaran sekretariat, KPU DIY, Bawaslu Kulonprogo, Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK), partai politik, dan instansi terkait.

Rapat yang dipimpin ketua KPU Kulonprogo Muh Isnaini menetapkan jumlah DPT sebanyak 334.153, terdiri dari pemilih laki-laki 162.553 dan perempuan 171.600. "Jika dibandingkan jumlah daftar pemilih sementara hasil perbaikan (DPS-HP), yang berjumlah 334.682 (laki-laki 162.810, perempuan 171.872), berarti mengalami penurunan sejumlah 529 pemilih," ujar Isnaini.

DPT terbanyak terdapat di Kecamatan Pengasih 38.726 orang dengan jumlah 7 desa dan 139 tempat pemungutan suara (TPS) dan paling sedikit DPT-nya adalah Kecamatan Girimulyo dengan jumlah 19.615 orang dari 4 desa dan 85 TPS. Sedangkan Kecamatan Sentolo sebanyak 37.115 dan Kecamatan Wates 35.595.

Marwanto Komisioner KPU Kulonprogo yang membidangi pemutakhiran pemilih mengatakan, semua masukan baik dari masyarakat maupun panwas sudah ditindaklanjuti. Sebagian besar masukan tersebut terkait tentang kesalahan nama penulisan tanggal dan bulan tahun, alamat serta identitas kependudukan lain (misal NIK dan NKK) yang belum lengkap juga sudah diperbaiki. "Memang ada sebagian temuan panwas yang tidak dapat ditindaklanjuti karena temuan yang tidak valid," katanya.

Sesuai regulasi, lanjut Marwanto, jika ada warga yang sudah punya hak pilih (memenuhi syarat sebagai pemilih), namun yang bersangkutan tidak atau belum masuk di DPT, akan dimasukkan sebagai daftar pemilih khusus (DPK). Warga yang masuk sebagai DPK dapat menggunakan hak pilihnya pada hari pemungutan suara dengan menunjukkan KTP-elektronik. (Wid)

Share:

Ratusan Warga Kulonprogo Laksanakan Sholat Idul Adha Hari Ini


Kuntadi · Selasa, 21 Agustus 2018 - 09:53 WIB



Warga muslim di Triharjo, Wates, Kulonprogo melaksanakan Salat Idul Adha di Lapangan Tambak Wates, Kulonprogo, Selasa (21/8/2018). (Foto: iNews.id/Kuntadi)KULONPROGO, iNews.id – 

Ratusan warga muslim di Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) melaksanakan Salat Hari Raya Idul Adha di Lapangan Triharjo, Desa Triharjo Kecamatan Wates, Selasa (21/8/2018). Salat Idul Adha ini dilaksanakan oleh Ikatan Pengajian Triharjo. Mereka mengikuti pelaksanaan Idul Adha di Mekkah, yang pada Senin (20/8/2018) kemarin sudah wukuf di Arafah.

Salat Idul Adha dilaksanakan tepat pukul 06.30 WIB. Bertindak sebagai imam dan khatib, H Sholikhul Hadi, pengasuh Pondok pesatren (Ponpes) di Darul Ulum, Galur, Kulonprogo. “Tadi malam kita sudah takbir, paginya dilaksanakan Sholat Idul Adha,” kata Nuri Suharsono, salah satu tokoh agama di Triharjo usai melaksanakan Salat Idul Adha, Selasa (21/8/2018).

Sebagian besar jamaah merupakan jamaah Masjid Baitullah Jala Jalalu yang dikenal dengan Masjid Jalatundo di Pedukuhan Cokrodipan. Meski ada juga warga luar yang berasal dari beberapa kecamatan di Kulonprogo.

Nuri mengatakan, jamaah hadir di Lapangan Triharjo untuk melaksanakan Salat Idul Adha, karena mereka memahami hakikat yang terikat kepada perintah Allah. “Dalam berbagai Firmanya, Allah telah menjelaskan jika haji bulannya sudah tertentu. Masalah adanya perbedaan ini karena yang mengumumkan saja. Sementara kami mengikuti perayaan Idul Adha di Mekkah. Di mana Wukuf di Arafah sudah dilaksanakan pada Senin (20/8/2018) kemarin. Sehingga esok harinya sudah harus dilaksanakan Salat Idul Adha,” ucapnya.

“Yang berhak mengumumkan adalah penguasa di Mekkah sana. Bukan NU atau Muhammadiyah ataupun Dewan Dakwah. Beda Indonesia dengan Arab hanya empat jam itu tidak membedakan harinya,” imbuhnya.

Menurut Nuri, warga dan jamaah juga akan menyembelih hewan kurban pada hari ini. Mereka mendasarkan pada keutamaan menyembelih pada hari pertama Idul Adha. “Tidak masalah ada perbedaan, kami miliki kepercayaan sendiri. Kami tidak ada aliran tertentu hanya ikuti yang di Mekkah,” ucapnya.

Salah seorang jamaah, Andri Susanti mengaku baru pertama kali ini pelaksanaan salat Hari Raya berbeda dengan sebagian masyarakat di sekitarnya. Namun dia tidak mempermasalahkan adanya perbedaan ini. Mereka percaya dan mengikuti perayaan Idul Adha yang ada di Mekkah. “Tidak perlu dipermasalahkan adanya perbedaan ini,” jelas Andri yang datang bersama dengan keluarga.

Dalam khotbahnya, H Sholihul Hadi lebih banyak mengajak kepada jamaah untuk meningkatkan keiamanan dan ketaqwaan. Salah satunya mengajak untuk melaksanakan kurban.

Pelaksanaan Salat Idul Adha ini juga mendapatkan perhatian dari aparat keamanan dari Polres Kulonprogo. Puluhan aparat kepolisian baik menggunakan seragam ataupun berpakaian preman berjaga di sekitar lapangan.


Editor : Himas Puspito Putra


Share:

Disdukcapil Kulonprogo Jemput Bola Rekam e-KTP di Sekolah




TRIBUNJOGJA.COM / Singgih Wahyu
Petugas Disdukcapil Kulonprogo jemput bola melakukan perekaman e-KTP ke sekolah. 



TRIBUNJOGJA.COM, KULONPROGO - Jemput bola perekaman kartu tanda penduduk elektronik (e-KTP) di kalangan calon pemilih pemula dilakukan Dinas Kependudukan dan Catatan Sipil (Disdukcapil) Kulonprogo.

Hal ini guna mendukung pemenuhan hak pilih para pemuda itu dalam Pemilu 2019 mendatang.

Target perekaman itu adalah para pelajar tingkat SMA yang sudah berumur 17 tahun namun belum melakukan perekaman data e-KTP di Disdukcapil maupun kantor Kecamatan Kalibawang dan Galur.


Juga, seluruh siswa yang pada April 2019 mendatang genap berumur 17 tahun.

"Langkah ini kami lakukan supaya siswa ini tidak kerepotan datang ke kantor Disdukcapil dan tidak terganggu belajarnya," kata petugas perekaman Disdukcapil Kulonprogo, Handoyo Suryo Putro pada Tribunjogja.com di sela perekaman di SMAN 1 Wates, Senin (20/8/2018).

Ada empat sekolah yang ditargetkan bakal disambangi untuk perekaman pada hari itu.

Di antaranya ialah SMA Negeri 1 Wates dan SMA BOPKRI Wates.

Sedangkan selama Agustus ini ditargetkan ada 10 sekolah yang bisa menjalani perekaman.

Pihaknya menginginkan seluruh siswa yang telah atapun akan berusia 17 tahun pada April 2019 mendatang bisa mendapatkan bukti perekaman.

"Ini upaya kami untuk menunjang kesuksesan Pemilu nanti dengan menggaet pemilih pemula sebanyak-banyaknya," jelasnya.

Seorang siswa kelas XII SMAN 1 Wates, Ivana Pavita Rani mengatakan sangat terbantu adanya perekaman data e-KTP di sekolah tersebut.

Dengan begitu, ia juga bisa mengurus dokumen lain seperti pembuatan SIM dan memastikannya bisa ikut menunaikan hak pilih dalam Pemilu nanti.(*)




Artikel ini telah tayang di Tribunjogja.com dengan judul Disdukcapil Kulonprogo Jemput Bola Rekam e-KTP di Sekolah, http://jogja.tribunnews.com/2018/08/20/disdukcapil-kulonprogo-jemput-bola-rekam-e-ktp-di-sekolah.

Penulis: ing
Editor: Gaya Lufityanti
Share:

BERITA KULON PROGO TERBARU

SITEMAP