Mohon perhatiannya, semua isi berita diblog ini adalah disalin dari berbagai sumber. Dan hanya sebagai arsip pribadi dan Group Komunitas Warga Kulon Progo.

Seluruh informasi termasuk iklan diblog ini bukan tanggung jawab kami selaku pemilik blog. Kami hanya Memberikan tempat kepada para pengiklan dan sebagai ,media sharing


 tarif jasa kami
KEMBALI KE HALAMAN AWAL – LC FOTOKOPI  *  TARIF JASA FOTOKOPI, PRINT, SCAN, KETIK, PRINT , DLL.   *   MELAYANI PRINT, PRINT COPY SECARA ONLINE


Showing posts with label Bisnis. Show all posts
Showing posts with label Bisnis. Show all posts

24 June 2019

Pelaku wisata Kulon Progo ikuti sertifikasi pemandu wisata - ANTARA News






Kepala seksi Pengelola Informasi Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kulom Progo Heri Budisantosa mengharapkan pemandu wisata tidak hanya menguasasi tentang seputar kepariwisataan akan tetapi sebaiknya juga mengerti dan memahami tentang berbagai potensi yang ada di Kulon Progo dalam segala aspek. (Foto ANTARA/Sutarmi)

Kulon Progo (ANTARA) - Sebanyak 15 pelaku wisata di Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengikuti pelatihan dan sertifikasi pemandu wisata supaya profesional di bidangnya.

Salah satu anggota DPD HPI DIY Isnani Fajri di Kulon Progo, Jumat, mengatakan pelatihan dan sertifikasi pemandu wisata ini memberdayakan warga masyarakat asli Kulon Progo di destinasi obyek wisata.

"Mereka juga dibekali materi bagaimana menjadi memperkenalkan objek wisata kepada masyarakat," kata Isnani.

Ia mengatakan tujuan pelatihan dan sertifikasi pemandu wisata ini supayan warga Kulon Progo dengan beroperasinya Bandara Internasional Yogyakarta tidak jadi penonton, tetapi menjadi pelaku dan memahami daerahnya sendiri serta dampak sosialnya bahwa mereka dapat menggerakkan warga untuk mencari penghidupan melalui sektor pariwisata.

"Pengembangan secara maksimal baik itu masyarakat yang ada di lokasi dan potensi wilayahnya. Jadi semua potensi tidak hanya untuk destinasi wisata tapi berdampak sosial," katanya.

Kepala seksi Pengelola Informasi Komunikasi Publik Dinas Komunikasi dan Informatika Kulom Progo Heri Budisantosa mengharapkan pemandu wisata tidak hanya menguasai seputar kepariwisataan akan tetapi sebaiknya juga mengerti dan memahami tentang berbagai potensi yang ada di Kulon Progo dalam segala aspek.

Seorang pemandu wisata harus mampu mempromosikan potensi lokal untuk dikenalkan kepada wisatawan sehingga menjadi magnet bagi wisatawan lainnya untuk berkunjung ke Kulon Progo.

Semua pemandu wisata dalam mengikuti pelatihan dan sertifikasi harus mengenal program pemerintah untuk menunjang pengetahuan.

"Dengan begitu mereka benar-benar kompeten dan profesional dalam melayani tamunya, memahami daerahnya serta mengenal program-program pemerintahya," kata Budi.


Pewarta: Sutarmi
Editor: Ahmad Buchori
COPYRIGHT © ANTARA 2019

 
https://m.antaranews.com/berita/922859/pelaku-wisata-kulon-progo-ikuti-sertifikasi-pemandu-wisata
Share:

19 February 2017

Pemkab Berharap Nelayan Naik Kelas Pakai Kalam di Atas 10 GT



Solopos.com, KULONPROGO – Pemerintah Kabupaten Kulonprogo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengharapkan nelayan setempat naik kelas, sehingga mampu mengoperasikan kapal-kapal di atas 10 grosston.

Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan (DKP) Kulonprogo Sudarna di Kulonprogo, mengatakan jumlah nelayan tradisional Kulonprogo sebanyak 648 orang.

“Kami berharap mereka naik kelas, meski nanti kewenangannya beralih ke provinsi. Tapi kami tetap mereka naik kelas dengan mengoperasikan kapal di atas 5 grosston,” kata Sudarna seperti dikutip Antara, Sabtu (18/2/2017).

Ia mengatakan nelayan tradisional itu hanya mampu mengoperasikan kapal perahu tempel. Mereka melaut juga masih mengandalkan kondisi cuaca.

“Kami sudah memberikan pelatihan kepada nelayan bagaimana mengoperasikan kapal ukuran besar. Mereka, kami ikut pelatihan di Cilacap dan Pacitan, tapi setelah kembali mereka tetap memilih mengoperasikan kapal motor tempel,” katanya.

Kepala Bidang Kelautan dan Perikanan Tangkap Dinas Kelautan dan Perikanan (DKPP) Kulon Progo Prabowo Sugondo mengatakan profesi nelayan di Kulon Progo ini masih sambilan.

“Selama pertanian masih menguntungkan, nelayan akan bertani. Selain itu, sebagian nelayan juga beralih profesi menjadi pembudi daya udang,” kata Prabowo.

Ia mengatakan turunnya produksi perikanan tangkap laut juga dikarenakan produksi perikanan tangkap menggunakan perahu motor tempel sangat tergantung oleh cuaca, angin, gelombang, posisi bulan, dan pasang surut.

Selain itu, terjadinya kemarau panjang menyebabkan suplai dari sungai ke laut menurun sehingga kandungan nutrisi air lau di jalur satu yang menjadikan kelimpahan fitoplankton menurun.

“Kami optimistis, produksi perikanan tangkap akan kembali meningkat pada 2017,” katanya.
Baca Halaman sumber.....
Share:

21 January 2017

Dua Pemuda Asal Kulonprogo Ciptakan Jam Unik dari Limbah Kayu



YOGYAKARTA - Berawal dari kecintaan pada jam tangan, dua pemuda asal Kulonprogo bernama Iyos Pramana dan Furqon Aziz mendaur ulang limbah kayu menjadi jam tangan mewah dan unik.

"Kami memilih kayu karena kami akrab dengan kayu sejak kecil, kami anak tukang kayu," kata Iyos Pramana (27) di Yogyakarta, baru-baru ini

Iyos bersama sang adik yang baru saja merampungkan pendidikan SMA-nya tergelitik memanfaatkan limbah meubel dari usaha ayahnya.

Potongan kayu-kayu furnitur diasah dan diserutnya menjadi rangka jam tangan yang unik, sehingga terciptalah brand yang mulai terangkat namanya kini JK Watch.

Terlebih di daerah tempatnya tinggal yakni di Kulonprogo, limbah kayu bukanlah sesuatu yang sulit untuk dicari. Maka keduanya pun bertekad semakin serius memproduksi jam tangan unik dari kayu yang dibuat seluruhnya secara hand made dan eksklusif sesuai pesanan.

"Saking seriusnya kami sampai pinjam uang Rp5 juta ke bank untuk modal," kata Furqon yang tahun ini genap berusia 19 tahun.

Setelah mendapatkan endorsement dari Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) dalam sebuah pameran UKM, keduanya pun tak ragu membranding jam tangan buatannya dengan nama JK Watch yang juga bisa berarti Jam Kayu atau Jam asli Kulonprogo.

"Saat awal sampai beberapa bulan kami produksi sama sekali tidak laku, tapi kami tidak menyerah kami terus promosi terutama di media sosial," katanya.

Kerja keras keduanya membuahkan hasil, ketika sedikit demi sedikit JK Watch mulai menunjukkan prospek cerahnya terlebih setelah beberapa kali mengikuti pameran UKM di sejumlah kota.

Usaha yang genap berusia setahun itu kini mulai kebanjiran pesanan meski produksinya belum bisa secara massal, paling banyak 20 jam per bulan.

"Sebab untuk membuat satu jam kami perlu waktu dua hari," kata Furqon.

Jam yang dihasilkannya kini sudah semakin dikenal dan diminati bahkan menjadi souvenir khas yang dipesan beberapa instansi termasuk Kementerian Koperasi dan UKM. Rata-rata harga jam buatan dua bersaudara itu dijual berkisar Rp600.000-Rp850.000 per buah dengan garansi mesin ganti baru dan kerusakan dalam dua tahun.

Selain jam tangan, kakak adik itu pun memproduksi kaca mata kayu untuk melengkapi koleksi konsumen pencinta kayunya. Ke depan keduanya bertekad semakin serius menggeluti bisnis jam kayu yang unik tersebut.

"April tahun ini kami akan melaunching seri jam premium dengan mesin buatan Swiss dan bahan kayu terbaik," kata Iyos.

Semangat keduanya pun didukung penuh oleh keluarga bahkan kini ayahnya yang dulu berbisnis meubel berbalik membantu usaha kedua anaknya.

"Dulu kami bantu bapak, sekarang terbalik bapak bantu kami," kata Iyos.

(sus)
Share:

14 September 2016

Prancis Impor Bahan Baku Parfum dari Kulon Progo



TEMPO.COYOGYA - Prancis tertarik pada bahan baku wewangian asal Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Negara yang dikenal sebagai penghasil parfum itu malah mengimpor minyak atsiri, kosmetik, dan wangi-wangian dari daerah ini. Badan Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta menyebutkan ekspor komoditas ini ke Prancis meningkat pada 2016 sebesar 94,2 persen dibanding pada 2015.

Bahkan, sepanjang Januari-Juli 2016, nilai ekspor komoditas itu mencapai US$ 5,74 juta. Sedangkan pada Januari-Juli 2015, nilai ekspor mencapai US$ 2,95 juta. “Minyak atsiri dari daun cengkeh dan biji nilam produksi Kulon Progo digunakan sebagai campuran bahan parfum Prancis,” kata Kepala BPS DIY, Bambang Kristianto, kemarin.

Menurut Bambang Kristianto, minyak atsiri, kosmetik, dan wewangian termasuk dalam sepuluh komoditas unggulan yang dikirim ke negara-negara tujuan utama ekspor. Prancis berada di urutan negara teratas yang mengimpor minyak atsiri, yakni 63,08 persen. Negara pengimpor minyak atsiri berikutnya adalah Amerika Serikat sebesar 7,98 persen, Inggris 4,94 persen, Belanda 4,41 persen, dan Jepang 0,14 persen.

Minyak atsiri dihasilkan dari ekstrak alami daun, bunga, kayu, biji-bijian, dan putik bunga. Sentra penghasil minyak atsiri di DIY terbesar berada di Kecamatan Samigaluh, Kulon Progo. Mereka merupakan puluhan kelompok usaha yang memproduksi minyak dari hasil penyulingan daun cengkeh kering. Bahan baku berupa daun cengkeh kering biasanya hanya tersedia pada musim kemarau. Minyak atsiri jenis ini banyak digunakan untuk wewangian, penyedap masakan, dan industri farmasi.

Menurut Bambang, minyak dari hasil penyulingan daun cengkeh dan biji nilam produksi kelompok usaha Kulon Progo disetor ke PT Eksotik Aromatika yang berada di Jalan Solo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Minyak atsiri dari penyulingan daun cengkeh dan biji nilam itu kemudian diekspor ke sejumlah negara Eropa.

Pengusaha PT Eksotik Aromatika, Ridwan Raharjo, mengatakan negara-negara Eropa umumnya menggemari minyak atsiri yang punya aroma khas, di antaranya dari daun cengkeh, damar, biji nilam, mawar, dan melati. “Prancis pangsa pasar tersendiri. Mereka menyukai minyak atsiri dari cengkeh dan nilam,” kata Ridwan.

Dia mengatakan bisnis minyak atsiri dari tanaman nilam cukup menjanjikan dan diminati negara-negara Eropa. Untuk pasar dalam negeri, minyak atsiri dari daun nilam juga bagus. Harga minyak atsiri dari daun nilam per kilogram mencapai Rp 800 ribu. Menurut Ridwan, ekspor minyak atsiri meningkat hingga 20 persen dalam beberapa bulan terakhir.

Selain negara-negara Eropa, minyak atsiri dari Indonesia disukai negara-negara Timur Tengah untuk wewangian. Timur Tengah lebih menyukai minyak atsiri dari kayu gaharu. “Wewangian minyak jenis ini tahan lama,” kata Ridwan.

SHINTA MAHARANI
Share:

BERITA KULON PROGO TERBARU

SITEMAP