Mohon perhatiannya, semua isi berita diblog ini adalah disalin dari berbagai sumber. Dan hanya sebagai arsip pribadi dan Group Komunitas Warga Kulon Progo.

Seluruh informasi termasuk iklan diblog ini bukan tanggung jawab kami selaku pemilik blog. Kami hanya Memberikan tempat kepada para pengiklan dan sebagai ,media sharing


 tarif jasa kami
KEMBALI KE HALAMAN AWAL – LC FOTOKOPI  *  TARIF JASA FOTOKOPI, PRINT, SCAN, KETIK, PRINT , DLL.   *   MELAYANI PRINT, PRINT COPY SECARA ONLINE


31 July 2017

Anak Muda Diajak Promosikan Wisata Kulonprogo



Solopos.com, KULONPROGO-Dinas Pariwisata DIY menyelenggarakan Festival Band Kulonprogo di Taman Wana Winulang, Pengasih, Kulonprogo, Minggu (30/7/2017). Kegiatan itu diharapkan meningkatkan partisipasi generasi muda dalam mengembangan potensi sektor pariwisata di Kulonprogo.

Festival Band Kulonprogo diikuti sejumlah grup musik dari berbagai komunitas di Kulonprogo yang sebelumnya telah melalui proses seleksi. Acara itu juga dimeriahkan penampilan Karnamereka sebagai bintang tamu. Karnamereka merupakan sebuah band beraliran pop punk yang berasal dari Wates, Kulonprogo.


"Kami ingin mewadahi kegiatan komunitas. Mereka pasti rutin latihan dan selayaknya dibuatkan panggung untuk menunjukkan kemampuannya," kata Suherman selaku panitia.

Suherman mengungkapkan, panitia juga menggelar Apresiasi Seni Pelajar Kulonprogo di Taman Stadion Cangkring, Kulonprogo, Sabtu (29/7/2017) kemarin. Ratusan pelajar berkumpul untuk menyaksikan penampilan seni, seperti teater, seni tari, musik, serta pameran foto. Mereka diberikan ruang untuk berekspresi.
Kepala Seksi Obyek Daerah Tujuan Wisata (ODTW) Dinas Pariwisata DIY, Wardoyo mengatakan pelestarian budaya dan pengembangan sektor pariwisata memiliki keterkaitan yang kuat. Budaya hendaknya dapat dilestarikan sekaligus dikembangkan oleh tangan-tangan kreatif sehingga menjadi kekuatan potensial bagi sektor pariwisata.

Apresiasi Seni Pelajar dan Festival Band Kulonprogo merupakan upaya merangkul generasi muda untuk lebih aktif dalam upaya pelestarian budaya dan promosi wisata lokal.

"Festival itu memberikan mereka ruang untuk berekspresi. Itu juga ajang promosi destinasi wisata sehingga diharapkan memacu pertumbuhan perekonomian, khususnya di bidang kepariwisataan," kata Wardoyo.

Penyelenggaraan kedua kegiatan itu dilaksanakan bekerja sama dengan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) DIY. Jika memungkinkan, acara serupa diharapkan bisa kembali dilaksanakan setiap tahun. Menurutnya, potensi masyarakat di bidang seni dan budaya memang sudah sepantasnya mendapatkan apresiasi dari pemerintah.

Kepala Dinas Pariwisata DIY, Aris Riyanta mengatakan, pemerintah selalu berupaya menyediakan wadah berekspresi bagi pelaku seni budaya. Hal itu juga bertujuan mempromosikan potensi daerah. Dia berharap masyarakat lebih tergugah untuk ikut menjaga dan mengembangkan potensi yang ada sehingga mendukung pengembangan sektor pariwisata.
Share:

Tidak Ada Jalan Tol Bandara Langsung ke Borobudur



KompasProperti - Pemerintah pusat berencana membangun bandara internasional baru di wilayah Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta. Kendati demikian, pembangunan bandara tersebut tak akan disusul dengan pembangunan jalan tol.

Hal ini terkait dengan pernyataan Gubernur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono X yang menolak wacana pembangunan jalan tol di wilayah Yogyakarta.

Menurut Menteri Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) Basuki Hadimuljono, kabar pembangunan tol itu tidak benar.

"Enggak ada itu (jalan tol dari) bandara langsung Borobudur itu enggak ada. Hanya memperlebar jalan provinsi yang sudah ada," kata Basuki di Jakarta, Selasa (24/7/2017) lalu.

Sejauh ini, kata Basuki, rencana pembangunan jalan tol menuju wilayah Yogyakarta baru sebatas Jalan Tol Cilacap-Yogyakarta-Solo dan Bawen-Yogyakarta.

Basuki pun memahfumi kekhawatiran Sultan jika Jalan Tol Kulon Progo-Borobudur dibangun, yaitu berkurangnya pendapatan ekonomi masyarakat. Namun, ia menegaskan, tidak ada wacana pembangunan jalan tol tersebut.

"Memang tidak ada rencana itu (Kulon Progo-Borobudur)," kata dia.

Saat rapat terbatas membahas proyek strategis nasional dan program prioritas DIY di Kantor Presiden pada 20 April lalu, Presiden memerintahkan Gubernur DIY dan Kementerian Perhubungan untuk mempercepat pembangunan bandara Kulon Progo.

"Presiden menugaskan Menhub dan Gubernur DIY, untuk Bandara Kulon Progo bisa digunakan bulan April 2019," kata Sekretaris Kabinet Pramono Anung di Kantor Presiden, Jakarta.

Selain itu, Presiden juga meminta pembangunan jalan tol yang menghubungkan bandara dengan kawasan Candi Borodbudur segera diselesaikan.

"Dengan demikian, kalau (penyelesaian Bandara Kulon Progo) itu termasuk jalan tolnya, maka antara Borobudur ke Bandara dan ke wisata lain akan terkoneksi dengan baik," ujar Pramono.

Namun, Sultan menilai, masih ada persoalan terkait pembangunan jalur wisata. Menurut dia, ada tiga jalur yang dapat dikembangkan, yaitu timur, tengah dan barat.

Menurut Sultan, jalur tengah adalah jalur paling cocok untuk dikembangkan sebagai jalur wisata. Jadi, keputusan mengenai hal ini harus diputuskan bersama kementerian terkait.

"Jadi ya nantilah antara Kemenhub dan Kemen PU-Pera bakalan berunding dulu," ujar Sultan.
Share:

7 Satwa Langka akan Dilepasliarkan



Haraianjogja.com, KULONPROGO-Tujuh individu satwa langka dan dilindungi, akan dilepasliarkan pada peringatan puncak Hari Konservasi Alam Nasional (HKAN) 2017, di Taman Nasional Baluran, pada 10 Agustus 2017 mendatang.

Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam Daerah Istimewa Yogyakarta (BKSDA DIY) Junita Prajanti menjelaskan, ketujuh satwa langka terdiri dari terdiri dari seekor elang brontok (Nisaetus chirhatus), empat ekor elang alap jambul (Accipiter trivirgatus) dan dua ekor landak raya (Histrix brachiura).

Semuanya merupakan satwa yang telah direhabilitasi di Wildlife Rescue Centre (WRC) selama jangka waktu tertentu. Berasal dari sitaan kepolisian atau diserahkan langsung oleh masyarakat.

"Dari jumlah satwa yang akan dilepasliarkan, mayoritas sitaan. Secara umum, kesadaran masyarakat sudah cukup baik, mereka memahami bahwa sejumlah satwa adalah dilindungi, namun perdagangan ilegal masih terjadi, kami menindaklanjutinya bersama kepolisian," ujarnya, Minggu (30/7/2017).
Pelepasliaran merupakan sebuah aksi masyarakat untuk menjadikan konservasi alam sebagai sikap hidup dan budaya di Indonesia, imbuh dia. Setiap anggota masyarakat harus turut menjaga keanekaragaman hayati. Hal itu pula yang kemudian menjadikan peringatan HKAN 2017 mengambil tema Konservasi Alam, Konservasi Kita.

Harapannya, masyarakat semakin peduli untuk melestarikan keanekaragaman hayati. Peringatan HKAN di Kulonprogo sendiri, juga akan diisi dengan camping keanekaragaman hayati di kompleks Taman Nasional Suaka Margasatwa Waduk Sermo, Kokap.

Manajer Konservasi WRC, Randy Kusuma mengatakan, Baluran dipilih menjadi lokasi pelepasliaran, mengingat Baluran adalah area yang dilindungi, habitat elang dan landak, sumber makanan melimpah, serta akses masyarakat yang jelas dan teramati.

Seharusnya ada sembilan individu yang harus dilepasliarkan, namun dua lainnya dinyatakan belum siap. Selain direhabilitasi, sebelum dilepas ke alam, dilakukan pengukuran dan pemasangan cincin penanda di bagian tubuh mereka oleh Indonesia Bird Banding Scheme dan Paguyuban Pengamat Burung Jogja.
Share:

30 July 2017

UMBY Bangun Rumah Produksi Growol di Kulonprogo



KULONPROGO, KRJOGJA.com - Universitas Mercu Buana Yogyakarta (UMBY) bekerjasama dengan Kementerian Riset Teknologi dan Pendidikan Tinggi (Kemenristek Dikti) mengembangkan rumah produksi growol di wilayah Dusun Sangon, Kalirejo, Kokap Kulonprogo. Kawasan tersebut bakal dijadikan sentra produksi growol yang bisa menghasilkan setengah ton growol per minggu.

Kepala Dusun Sangon, Sudarman mengatakan rumah produksi ini sebenarnya telah dirintis dari tahun 2013 dan pada awalnya Dusun Sangon hanya mampu memproduksi Growol sebanyak 100 kg per minggu. Beberapa hambatan terjadi dalam proses memproduksi Growol yakni tenaga kerja karena hanya sebagai sambilan.

"Kami juga terbentur ketersediaan bahan pokok pembuatan Growol padahal pengembangan pangan lokal ini ingin terus dilaksanakan," ungkap Sudarman di Dusun Sengon, Kamis (27/07/2017).

Berdasar keluhan tersebut melalui Program Hibah Desa Mitra tahun 2017-2019, UMBY melakukan pembangunan rumah produksi Growol di Dusun Sangon, yang ditandai dengan peletakan batu pertama oleh Rektor UMBY, Dr Alimatus Sahrah, MSi MM. Tak hanya itu, diresmikan pula nama kelompok pengrajin Growol 'Buana Mekar' di bawah  binaan UMBY.

"Kami sangat berharap rumah produksi ini nantinya bisa merekah, berkembang, dan mengharum Kulonprogo di mata nasional bahkan internasional sebagai sentra panganan tradisional Growol. Semoga masyarakat semakin semangat dalam melestarikan Growol," terang Alimatus Sahrah.

Dalam peresmian tersebut hadir pula Ketua Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LPPM) sekaligus Ketua pelaksana Program Desa Mitra, Dr Ir Bayu Kanetro, MP Sekretaris Desa Kalirejo mewakili Kepala Desa Kalirejo dan perwakilan Kecamatan Kokap, Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo serta masyarakat Dusun Sangon Kalirejo.

Dr Bayu Kanentro mengungkap pembangunan rumah produksi growol ini diharapkan menjadikan proses produksi memenuhi standar sehingga bisa mendapatkan sertifikasi dari pihak terkait seperti dari Dinas Kesehatan, Badan Pengawas Obat dan Makanan serta Majelis Ulama Indonesia. Menurutnya produk turunan Growol seperti beras analog berpotensi dipasarkan secara luas sehingga sertifikasi penting dilakukan.

"Dari penelitian dosen UMBY melalui hibah Masterplan Percepatan dan Perluasan Pembangunan Ekonomi Indonesia (MP3EI) tahun 2015-2016 Growol telah diformulasi menjadi beras analog dengan merk dagang Rastelo. Rastelo bermanfaat untuk mencegah kegemukan dan diabetes, nah hal tersebut diharapkan dapat meningkatkan kesejahteraan pengrajin growol dan masyarakat masyarakat Kulonprogo pada umumnya," terangnya. (Fxh)
Share:

24 July 2017

Kulon Progo Kembangkan Bukit Menoreh sebagai Kawasan Pertumbuhan Ekonomi - NETRALNEWS.COM




Pemerintah Kabupaten Kulon Progo, Daerah Istimewa Yogyakarta, mengembangkan Bukit Menoreh sebagai kawasan pertumbuhan ekonomi baru untuk mendukung pembangunan bandar udara New Yogyakarta International Airport. selain area penyangga Kawasan Strategis Pembangunan Nasional Borobudur.

Bupati Kulon Progo Hasto Wardoyo di Kulon Progo, Minggu, mengatakan pemkab tengah menyiapkan program "Bedah Menoreh", mulai dari membedah infrastruktur jalan, sektor pariwisata, perkebunan, moda transporasi, hingga membedah budaya.

"Kami berharap dengan adanya bandara New Yogyakarta International Airport dan penyangga Kawasan Strategis Pembangunan Nasional Borobudur, Kulon Progo tidak sekadar tempat transit, tapi juga menjadi destinasi yang layak untuk wisatawan," kata Hasto.

Saat ini, lanjut Hasto, Pemkab Kulon Progo tengah membangun jalan dari Temon lokasi bandara menuju Borobudr melalui jalur Bedah Menoreh dari Temon - Kokap - Girimulyo - Samigaluh - Kalibawang - Borobudur (Jawa Tengah).

"Kami berusaha mengakses penyelesaian jalan Bedah Menoreh dari Pemda DIY dan Kementerian PUPR," kata Hasto.

Sektor pariwisata, lanjut Hasto, pemkab tengah mempersiapkan objek wisata di kawasan Bukit Menoreh dikelola secara profesional dan ramah bagi wisatawan. Ke depan, kawasan Bukit Menoreh menjadi kawasan penyangga KSPN Borobudur. Wilayah yang menjadi penyangga KSPN Borobudur yakni Kebun Teh Nglinggo-Tritis.

Di Kecamatan Girimulyo juga tumbuh objek wisata yang tidak kalah menenarik untuk dikunjungi. Sedikitnya, ada 15 objek wisata yang berkembang mulai dari gua, curug hingga dan wisata regiligi.

"Di sana, kami tengah menyiapkan infrastruktur dan masyarakat, serta pelaku wisata menjaga keindahan alam, sehingga menjadi wisata teh yang digandrungi wisatawan dari dalam negeri dan luar negeri," katanya.

Sementara itu, Gubernur Daerah Istimewa Yogyakarta Sri Sultan HB X mengimbau kepada kepala daerah di wilayah ini untuk meningkatkan kreativitas dan berinovasi di sektor pariwisata dengan adanya Bandara Internasional di Kabupaten Kulon Progo.

Sultan mengatakan pemerintah pusat membangun bandara baru di Kabupaten Kulon Progo, tetapi infrastruktur pariwisata yang dibangun di Jawa Tengah seperti pengembangan Kawasan Strategis Pembangunan Nasional (KSPN) Borobudur dengan empat jalur Borobudur.

"Pertanyaannya, turisnya melibat Borobudur dari Yogyakarta atau mereka datang melihat Yogyakarta dari Borobudur. Kami juga berfikir soal ini," kata Sultan.

Sultan mengatakan siap membantu pengembangan dan percepatan sektor pariwisata supaya sudah siap saat bandara sudah beroperasi. Namun ia meminta Pemkab Kulon Progo beserta jajarannya dan masyarakat harus mengubah paradigma dan cara berpikir, yakni bagaimana turis tidak hanya lewat Kulon Progo tapi juga menginap di Kulon Progo.

Dari pada turis lewat Kulon Progo dan menginap di Borobudur, ini menjadi tantangan bersama untuk dipecahkan.

"Semoga kita semua dapat membuka wawasan dengan Jogja Istimewa, pariwisata bisa tumbuh dan berkembang. Jangan sampai pembangunannya di DIY, tapi tidak dapat menerimaa manfaat karena kita tidak inovatif dan kreatif," kata Raja Keraton Ngayogyakarta ini.

Pengembangan sektor pariwisata Pemerintah Kabupaten Kulon Progo telah menyusun rencana detail teknis (DED) pengembangan kawasan menoreh tang dilakukan Dinas Pertanian dan Pangan bekerja sama dengan Dinas Pariwisata, dan Dinas Perhubungan. Dinas tersebut akan mengkolaborasikan program untuk percepatan pengembangan sektor pariwisata.

Kasi Sarana dan Prasarana Dinas Pariwisata Kulon Progo Fitri Lianawati mengatakan pada 2017 ini, Dinas Pariwisata membangun tempat istirahat dan pusat oleh-oleh di dekat Pasar Plono Kecamatan Samigaluh dalam rangka mendukung pertumbuhan objek wisata Kebun Teh Nglinggo-Tritis. Dana pembangunan pusat oleh-oleh dan tempat istirahat atau rest area sebesar Rp2,6 miliar yang berasal dari dana alokasi khusus.

"Saat ini, sudah mulai tahapan pembangunan. Kami mentargetkan pusat oleh-oleh dan tempat istirahat atau rest area selesai pada Oktober 2017," harap Fitri.

Ia mengatakan luasan pusat oleh-oleh dan tempat istirahat atau rest area yakni ukuran 40 x 40 meter persegi dengan menggunakan tanah kas desa. Untuk itu, pihaknya intensif menjalin komunikasi dengan Dinas Pertanahan dan Tata Ruang Kulon Progo terkait izin penggunakan tanah kas desa dan kompensasinya.

"Sejauh ini, izin dari gubernur terkait izin penggunaan tanah kas desa sudah turun. Sehingga, kami berani membangun pusat oleh-oleh dan tempat istirahat atau rest area," katanya.

Rencananya, rest area akan digunakan sebagai lahan parkir bus pariwisata dan mobil wisatawan. Wisatawan yang akan ke puncak kebun teh Nglinggo bisa menggunakan mobil jeep atau angkutan perdesaan (angkutdes) yang dikelola oleh Pokdarwis Dewa Lingga. "Wisatawan dapat menimati keindahan alam dan kebun teh dengan nyaman," katanya.

Selain itu, pihaknya membangun berbagai fasilitas umum dan fasilitas khusus di Kawasan Kebun Teh Nglinggo-Tritis yang menggunakan lahan milik Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat (SG). Dispar sudah meminta izin ke pihak keraton.

"Kami akan membangun Kebun Teh Nglinggo-Tritis secara spektakuler," katanya.

Sementara itu, Kabid Angkutan dan Perparkiran Dishub Kulon Progo Arif Martono mengatakan, pihaknya sedang menyusun jalur angkutan perdesaan menuju objek wisata Kebun Teh Nglinggo-Tritis, serta jalur trayek kawasan Bukit Menoreh.

"Kawasan Bukit Menoreh sangat potensial menjadi pusat pertumbuhan objek wisata baru, tapi perlu didukung moda transportasi yang disesuaikan dengan kapasitas jalan," katanya.

Editor : Farida Denura
Sumber : Antara
Share:

70 Bayi Lahir Dapatkan Layanan Three In One - Harianjogja.com



Dinas Kependudukan dan Pencatatan Sipil (Dukcapil) Kabupaten Kulonprogo memberikan layanan three in one kepada 70 bayi lahir di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Wates. Orang tua bisa menerima tiga dokumen kependudukan sekaligus ketika membawa bayinya pulang.

Layanan three in one bagi bayi lahir merupakan bagian dari program 100 hari kerja Bupati dan Wakil Bupati Kulonprogo yang dijalankan Dinas Dukcapil Kulonprogo. Setiap bayi lahir yang pulang dari rumah sakit, puskesmas, maupun klinik bersalin milik pemerintah diharapkan sudah memiliki tiga dokumen kependudukan sekaligus. Bukan hanya akta kelahiran, melainkan juga nomor induk kependudukan (NIK) beserta kartu keluarga baru dan kartu identitas anak (KIA).

Kepala Dinas Dukcapil Kulonprogo, Djulistyo mengatakan, inovasi layanan kependudukan itu sudah diterapkan di RSUD Wates selama dua pekan terakhir.

"Jadi setiap bayi yang lahir di sana, ketika keluar rumah sakit sudah membawa tiga dokumen kependudukan. Sampai pekan kemarin sudah ada 70 bayi yang menerima layanan itu," ujar Djulistyo, Minggu (23/7).

Djulistyo memaparkan,  penertiban NIK, KIA, maupun akta kelahiran dirancang untuk tuntas sebelum bayi pulang. Timnya melakukan layanan jemput bola sehingga orang tua bayi tidak perlu repot-repot datang ke kantor Dinas Dukcapil Kulonprogo. Mereka hanya diminta menyerahkan berkas yang dibutuhkan untuk memperlancar proses administrasi, seperti foto kopi surat nikah dan KTP orang tua bayi.

"Petugas kami yang datang ke RSUD. Orang tua bayi atau keluarganya cukup menyerahkan berkas yang dibutuhkan," kata dia.

Sementara itu, Direktur RSUD Wates, Lies Indriyati mengatakan koordinasi dengan Dinas Dukcapil Kulonprogo berjalan lancar. Dia juga menilai kehadiran layanan three in one bagi bayi lahir secara tidak langsung turut meningkatkan kualitas pelayanan publik di RSUD Wates.

"Selama ini kami juga dikenal sebagai rumah sakit sayang ibu dan anak sehingga memang memberikan perhatian lebih bagi ibu hamil, ibu melahirkan, dan anak-anak," ungkap Lies.

Editor: Mediani Dyah Natalia - Harianjogja.com 
Share:

23 July 2017

Anggota WTT Tunggu Jadwal Pengukuran - harianjogja.com




Wahana Tri Tunggal (WTT) masih menunggu kepastian mengenai jadwal pengukuran dan penilaian ulang terhadap aset mereka yang berada di lokasi pembangunan bandara di Kecamatan Temon, Kulonprogo.

Ketua WTT, Martono, mengaku hanya mendapatkan informasi jika pengukuran sekaligus penilaian akan terlaksana dalam waktu dekat. Nantinya, WTT juga dilibatkan dalam koordinasi untuk mengawal kelancaran proses tersebut.

"Belum ada info harinya. Masih nungu hasil rapat pihak-pihak terkait," katanya, Kamis (20/7/2017). Martono lalu mengungkapkan Pemerintah Kabupaten Kulonprogo diketahui tetap berupaya melakukan pendekatan terhadap sebagian warga yang masih bersikap menolak pembangunan bandara.

Jika mereka berubah pikiran, lahan mereka bisa sekalian diikutkan dalam pengukuran dan penilaian ulang. Mengenai hal, WTT tetap memberikan kebebasan kepada masing-masing warga dalam menentukan sikap terkait megaproyek tersebut.

Martono memaparkan sasaran pengukuran dan penilaian ulang adalah rumah, tanaman, dan sarana pendukung lainnya (SPL). Hasilnya kemudian dibawa ke Pemerintah Pusat. Dia juga diberitahu jika tidak akan ada lagi data susulan lain jika berkas sudah sudah dikirim. "Keputusan di tangan Presiden. Kalau ditandatangani Presiden, bisa jadi uang," ujarnya.

Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo berharap warga bersikap kooperatif saat ada tim yang datang untuk melakukan pengukuran. Hal itu mengingatkan sebelumnya tim malah mendapatkan penolakan karena kurangnya komunikasi dan koordinasi. "Jadi kalau saya ke menteri untuk diskresi, datanya jelas berapa bidang, bagaimana kepemilikan dan asetnya. Itu juga untuk kepentingan proses legal formal selanjutnya," paparnya.

Editor: Galih Eko Kurniawan | http://www.harianjogja.com/jogjapolitan
Share:

Jalur Ngeseng Ditutup Total Ini Konsekuensinya - harianjogja.com



Beberapa warga Desa Sentolo, Kecamatan Sentolo, Kabupaten Kulon Progo tidak setuju jika jalur perlintasan kereta api Ngeseng ditutup total. Mereka berharap ke depan jalur tersebut tetap dibuka, minimal pejalan kaki dan kendaraan roda dua bisa lewat seperti sekarang ini.

Dedit, warga Sentolo Kidul, Desa Sentolo mengatakan sebaiknya jalur perlintasan tetap terbuka untuk kendaraan roda dua dan pejalan kaki. Jika ditutup secara total, ia khawatir ekonomi warga sekitar akan terganggu. Bahkan mungkin akan membuat aktivitas warga beberapa dusun jadi terhambat.
"Antara warga Dusun Selokidul dan Siwalan komunikasinya bisa susah, karena dua dusun itu terbelah rel kereta api. Kalau ditutup total jalan kaki juga enggak bisa lewat. Otomatis kegiatan seperti ronda, arisan RT, dan nganter anak sekolah jadi terganggu. Masak warga di seberang rel mau ke masjid yang ada di dekat pasar harus lewat Jalan Layang Ngelo," jelas Dedit yang bekerja sebagai tukang parkir di pasar lama Sentolo, Kamis (20/7/2017)

Sementara itu seorang ibu rumah tangga asal Dusun Pongangan, Sentolo yang enggan disebut namanya mengatakan dirinya setuju tidak setuju dengan keputusan Pemerintah Kabupaten Kulon Progo untuk menutup jalur perlintasan yang biasa digunakan oleh warga itu. Jika mengacu pada jarak, ia jelas tidak setuju karena jika lewat Jalan Layang terlalu jauh. Tapi jika dari sisi keamanan ia setuju untuk ditutup karena pada pagi hari keadaan di sana sungguh lah ramai.

"Saya setuju ditutup asalkan jalan 'tikus' yang lewat Sentolo Lor diperbaiki. Jalannya sekarang masih sangat jelek dan khusus untuk motor saja," jelasnya.

Seperti diberitakan sebelumnya, Dinas Perhubungan Kabupaten Kulon Progo pada tanggal 25 Juli nanti akan menggelar forum dengan mengundang berbagai pihak terkait untuk membicarakan kelanjutan penutupan jalur perlintasan Ngeseng. Forum itu akan menentukan apakah nantinya jalur akan ditutup total atau masih bisa dilewati kendaraan.

Jalur perlintasan kereta api Ngseeng sendiri ditutup sejak H-7 Idul Fitri 1438 Hijriah secara total karena ada pengalihan arus lalu lintas. Berdasarkan pantuan Harian Jogja di lapangan, jalur perlintasan Ngeseng saat ini sudah tidak ditutup secara total menggunakan road barrier. Melainkan hanya ditutup dengan sebuah papan peringatan bertuliskan keterangan pengalihan arus dan rambu dilarang melintas. Beberapa pengendara roda dua nampak melintasi jalur tersebut karena adanya celah yang cukup besar untuk dilewati.

Editor: Mediani Dyah Natalia |
Share:

Atasi Kekeringam, PDAM Kulonprogo Tambah Jaringan Pipa Air - harianjogja.com



Perusahaan Air Minum Daerah (PDAM) Tirta Binangun, selaku penyedia air bersih di Kulonprogo, terus menerus berupaya menambah jaringan pipa air untuk menanggulangi bencana kekeringan yang kerap melanda beberapa wilayah di Bumi Menoreh.

Direktur PDAM Tirta Binangun Jumantoro mengatakan kekeringan adalah bencana yang bisa diprediksi karena itu langkah pertama yang harus dilakukan adalah memetakan daerah-daerah mana saja yang rawan mengalami kekeringaan.

"Kami sudah melakukan pemetaan. Daerah yang kerap kali mengalami kekeringan adalah Kecamatan Girimulyo, Samigaluh, Kalibawang, dan sebagian kecil ada di Kokap. Mayoritas ada di daerah utara," jelasnya saat dihubungi pada Kamis (20/7/2017).
Jumantoro mengklaim daerah yang mengalami kekeringan semakin berkurang dari tahun ke tahun setelah adanya suplai air bersih dari jaringan pipa yang berasal dari PDAM Tirta Binangun atau yang bersumber dari mata air yang berada di sekitar daerah yang rawan mengalami kekeringan. Tapi ia juga mengakui saat ini PDAM masih kesulitan menjangkau beberapa lokasi.

"Hanya wilayah yang paling atas yang memang kami akui masih sudah mendistribusikan air, tapi tetap kami upayakan tahap demi tahap. Karena istilahnya kami tidak bisa tidur nyenyak selama di Kulon Progo masih ada kekeringan di musin kemarau. Itu spirit yang kami pegang selama ini," Ujar Jumantoro.

Khusus untuk Samigaluh dan Girimulyo, imbuhnya, saat ini PDAM sedang menyiapkan Sistem Penyedian Air Minum (SPAM) yang sumber airnya diambil dari Sungai Progo.

Ia menyebut proyek ini sudah mulai dikerjakan dengan menggunakan dana dari Anggaran Pendapatan dan Belanja Negara (APBN) dan bantuan dana dari Hungaria.

Editor: Nina Atmasari
Share:

Sasar Temon, Satpol Sita Alat Karaoke - solopos.com



Satuan Polisi Pamong Praja Kulonprogo kembali melakukan penyitaan alat dari sebuah rumah karaoke di wilayah Kecamatan Temon, Kulonprogo. Usaha hiburan ilegal itu diketahui masih nekat beroperasi meski sudah disegel oleh pemerintah.

Pelaksana Tugas Kepala Satpol PP Kulonprogo Duana Heru Supriyanto mengatakan penyitaan alat karaoke dilakukan dalam operasi penertiban yang menyasar Karaoke John di Desa Glagah, Temon Sabtu (22/7/2017) dini hari.

Kegiatan itu dilakukan bersama tim gabungan yang didukung Polres dan Kodim 0731/Kulonrogo. "Hasilnya, mengamankan perangkat alat karaoke berupa dua unit perangkat komputer dan dua unit power supply," ujar Duana, Sabtu.

Petugas juga mengamankan sembilan orang pemandu karaoke untuk menegakkan Peraturan Daerah No.4/2013 tentang Ketertiban Umum. Mereka dibawa ke Mako Satpol PP Kulonprogo untuk menjalani pemeriksaan lebih lanjut dan mendapatkan pembinaan. "Kegiatan serupa akan terus dilaksanakan dengan waktu yang tidak ditentu," ucap Duana

Share:

BERITA KULON PROGO TERBARU

SITEMAP