Mohon perhatiannya, semua isi berita diblog ini adalah disalin dari berbagai sumber. Dan hanya sebagai arsip pribadi dan Group Komunitas Warga Kulon Progo.

Seluruh informasi termasuk iklan diblog ini bukan tanggung jawab kami selaku pemilik blog. Kami hanya Memberikan tempat kepada para pengiklan dan sebagai ,media sharing


 tarif jasa kami
KEMBALI KE HALAMAN AWAL – LC FOTOKOPI  *  TARIF JASA FOTOKOPI, PRINT, SCAN, KETIK, PRINT , DLL.   *   MELAYANI PRINT, PRINT COPY SECARA ONLINE


29 March 2015

Puting Beliung Terjang Srikayangan

Harianjogja.com, KULONPROGO - Puting beliung porak-porandakan pohon dan
rumah warga di Dusun Kradenan dan Dusun Gunung Puyuh di Desa Srikayangan,
Sentolo, Rabu (25/3/2015). Tiga warga mengalami luka serius akibat tertimpa
atap rumah.

Dari pantauan Harianjogja.com di lokasi kejadian, Dusun Kradenan mengalamk
kerusakan cukup parah. Tiga rumah yang berada di dusun tersebut rusak parah
tersapu angin dan tertimpa sebuah pohon besar setinggi lebih dari 15 meter.
Dua rumah masing-masing milik Mardi Wiyono, 70, dan Tukiyo, 58, hancur dan
hampir rata. Bahkan, dua anggota keluarga Mardi menjadi korban akibat
bencana tersebut.

"Istri saya dan cucu saya sedang di ruang tengah. Saya sendiri di dapur
sedang menyalakan api untuk memasak air. Tiba-tiba saja rumah sudah ambruk,
lalu saya segera matikan api biar tidak membakar kayu kering di sekitarnya,"
ujar Mardi, Kamis (26/3/2015).

Menurut Kasidi, 63, tetangga korban, angin puting beliung muncul pertama
kali dari arah barat daya rumahnya.
Sekitar pukul 15.30 WIB, usai melaksanakan shalat ashar, Kasidi melihat awan
gelap di samping rumah. Saat itu hujan deras disertai angin kencang,
kemudian dari awan gelap itu muncul angin puting beliung memutar dan makin
membesar langsung menghantam pohon besar yg ada di lokasi itu.

"Anginnya lalu bergerak ke timur ke arah rumah Pak Mardi. Saya langsung lari
ke sana. Saya lihat, istri sama cucu Pak Mardi sudah dalam posisi terlentang
dan tertimpa reruntuhan," ungkap Kasidi.

Kasidi menuturkan, Mukiyem, 60, istri Mardi mengalami patah tulang pada
bagian lengan atas. Sedangkan cucu Mardi, Aprilia, 6, mengalami tulang retak
di bagian punggung. Seketika itu juga korban langsung dibawa ke RSUD Wates
untuk mendapat pertolongan.

Warga, relawan dan petugas gabungan membantu membersihkan puing-puing rumah
warga yang roboh setelah tertimpa pohon tumbang di Dusun Kradenan Desa
Srikayangan, Sentolo, Kamis (26/3/2015).

Editor: Mediani Dyah Natalia <http://jogja.solopos.com/baca/author/mediani>
Share:

26 March 2015

WTT Siap Bertemu Tim Kajian Keberatan

TEMON ( KRJogja.com)- Tim Kajian Keberatan Bandara Baru DIY di Temon
terdiri dari Sekda DIY Drs Ichsanuri, Bupati Kulonprogo dr Hasto
Wardoyo, Kepala Badan Perencanaan Pembangunan (Bappeda) DIY Tavip Agus
Rayanto, Kepala Kanwil Badan Pertanahan Nasional (BPN) DIY dan Kepala
Kanwil Hukum HAM DIY serta akademisi akan menemui 330-an warga pesisir
selatan Kecematan Temon yang hingga kini belum sepakat terhadap
rencana pembangunan bandara internasional di wilayah mereka.
Sementara warga kontra bandara tergabung dalam Wahana Tri Tunggal
(WTT) menyatakan siap menghadiri pertemuan khususnya di Balai Desa
Glagah Kecamatan Temon, Kamis (26/3).
Humas Proyek Pembangunan Bandara PT Angkasa Pura (AP) I Ariyadi
Subagyo menjelaskan pertemuan akan berlangsung di tiga lokasi
masing-masing Balai Desa Glagah dan Palihan serta di Joglo Kantor
Kecamatan Temon.
Dalam pertemuan tersebut Tim Kajian Keberatan Bandara akan
mengklarifikasi langsung perihal alasan warga keberatan terhadap
rencana pembangunan bandara di wilayah pesisir selatan Kecamatan Temon
Kulonprogo.
Secara teknis ungkap Ariyadi, tim kajian keberatan mempresentasikan
hasil rekap alasan keberatan warga kemudian dilanjutkan dengan
klarifikasi dalam bentuk dialog terbuka dengan tujuan mendalami alasan
warga suapaya tidak muncul salah persepsi dan salah rekomendasi.
"Hasil klarifikasi akan dijadikan bahan dalam menyusun rekomendasi
yang disampaikan kepada Gubenur DIY Sri Sultan Hamengku Buwono (HB) X
sebagai dasar diterbitkan atau tidaknya Izin Penetapan Lokasi (IPL)
bandara baru di Temon," tegasnya.
Secara terpisah Kepala Desa (Kades) Glagah Agus Parmono menjelaskan
sebagian besar warga yang belum sepakat dengan rencana pembangunan
bandara di Temon memang berasal dari wilayahnya. Adapun pertemuan tim
kajian keberatan dengan warga tidak terpusat di satu tempat melainkan
dibagi tiga lokasi yakni Balai Desa Glagah dan Balai Desa Palihan
serta Kantor Kecamatan Temon. Dijelaskan, hasil perhitungan tercatat
sekitar 50-an warga Glagah batal terdampak pembangunan bandara karena
lokasi digeser. "Batas di Pedukuhan Macanan, Bebekan dan Kretak
digeser ke selatan atau Jalan Diponegoro untuk meminimalkan jumlah
warga terdampak," ujarnya.
Begitu pula tempat atau objek wisata yang berada di sisi selatan tidak
terdampak pembangunan bandara. "Tapi kalau sisi utara yang saat ini
banyak berdiri penginapan dan karaoke semuanya kena tapi perlu diingat
lahan tersebut milik Paku Alaman atau Pakualaman Ground," tegasnya.
Ketua WTT Martono mengatakan, tujuan kedatangan warga menemui Tim
Kajian Keberatan Bandara selain untuk mendengarkan sekaligus juga
menjelaskan bahwa WTT tetap menolak pembangunan bandara di Kecamatan
Temon. "Kami memang memilih datang ke Balai Desa Glagah dan mungkin
sekitar 100-an orang yang akan hadir," tuturnya menambahkan kendatipun
bersedia datang bertemu tim kajian keberatan yang dibentuk Gubenur DIY
tapi pihaknya tetap konsisten memperjuangkan lahan produktif milik
mereka agar tidak dibangun bandara.(Rul)
Share:

25 March 2015

TBC Kulonprogo cenderung naik.

KULONPROGO ( KRjogja.com) -Tuberkulosis (TB) atau yang dulu dikenal
dengan TBC berakibat kematian di Kabupaten Kulonprogo cenderung naik.
Tahun 2013 yang meninggal karena TB ada 3 orang, jumlah tersebut
meningkat pada tahun 2014 menjadi 7 orang.
"Kematian karena TB meningkat karena saking banyaknya kasus yang
ditemukan. Kebanyakan terlambat ditemukan, sehingga ketika diobati
sudah makin parah dan akhirnya meninggal," kata Kasi Pemberantasan
penyakit Menular pada Dinas Kesehatan Kulonprogo Slamet Riyanto SKM.
Menurut Slamet penemuan makin banyak ini disebabkan kinerja puskesmas
meningkat, juga melibatkan klinik atau rumah sakit swasta. Kebanyakan
yang meninggal banyak dari usia tua. "TB, merupakan penyakit menukar
langsung yang disebabkan mikro bakterium tuberkulosis, sangat mudah
penularannya lewat pernafasan begitu dihirup udara yang sudah
mengandung bakteri maka akan langsung menular," ujarnya.
Di Kulonprogo, kasus TB tahun 2013 bakteri tahan asam (BTA ) + paling
menular ada 110 kasus, 2014 kasus 134 meningkat penemuannya. Secara
keseluruhan saat ini kasus TB ada 248, terdiri BTA + 134, kekambuhan
7, ekstra paru TB tidak di paru-paru 58 kasus, serta BTA-.
Penyebab TB makin parah adalah salah satunya faktor lingkungan.
Terjadinya suatu penularan, bila penderita batuk dan mengeluarkan
bakteri namun terkena sinar akan mati, tapi apabila lingkungannya
lembab maka bakteri banyak bertahan dan menular. Upaya pencegahan,
adalah apabila ditemukan penderita sebagai penular, maka segera
diobati agar tidak sebagai sumber. (Wid)
Share:

Minta Sesepuh Dan Anggota WTT Dibebaskan

WATES ( KRjogja.com) -Sekitar 200-an warga yang belum setuju rencana
pembangunan bandara tergabung dalam Wahana Tri Tunggal (WTT) kembali
menggelar unjuk rasa di depan Pengadilan Negeri (PN) Wates, Selasa
(24/03/2015).
Aksi damai tersebut dilakukan sebagai bentuk dukungan moral mereka
terhadap sesepuh dan pengurus serta anggota WTT masing-masing Saridjo,
Wasiyo, Tri Marsudi dan Wakidi yang menjalani persidangan di PN
setempat atas tuduhan penghasutan dan perusakan Balai Desa Glagah
Kecamatan Temon.
Sementara di dalam ruang sidang dengan agenda pembacaan eksepsi atau
keberatan terdakwa terhadap tuntutan Jaksa Penuntut Umum (JPU) yang
dibacakan penasehat hukum empat terdakwa dari Lembaga Bantuan Hukum
(LBH) Yogyakarta Hamzal Wahyudin dan rekan. Dalam eksepsinya penasehat
hukum para terdakwa menyatakan keberatan karena tuduhan atau dakwaan
JPU berlebihan, masyarakat dilarang mempertahankan hak miliknya.
Penasehat menyarankan agar aparat penegak hukum mengutamakan budaya
pendekatan moral dalam menyelesaikan perkara.
"Dakwaan JPU tidak lengkap dan tidak jelas. Karena itu kami mohon
majelis hakim menerima eksepsi yang kami sampaikan secara keseluruhan,
membatalkan dakwaan demi hukum, membebaskan terdakwa dari segala
tuntutan, mengembalikan terdakwa seperti status semula serta
merehabilitasi nama baik para terdakwa," kata Hamzal Wahyudin.
Sidang ditunda minggu depan atau Selasa (31/3) dengan agenda tanggapan
atau pledoi secara tertulis oleh JPU.(Rul)
Share:

23 March 2015

Warga Tayuban Peringati Sewindu Wafatnya Ki Hadi Sugito

KETOKOHANdalang Almarhum Ki Hadi Sugito dibidang pedalangan dan
karawitan memang tidak diragukan lagi. Lihat saja meski sudah
meninggal delapan tahun silam, tapi kecintaan dan kesayangan
masyarakat terhadap sosok dan kepiawaian serta karya lakon wayang
kulit yang dipentaskan semasa hidupnya terkesan tidak pernah mati.
Peringatan sewindu wafatnya sang maestro, masyarakat Desa Tayuban
menggelar serangkaian acara budaya dan keagamaan di Sanggar Mardi
Wirama Desa Tayuban Kecamatan Panjatan selama dua hari Jumat-Sabtu
(20-21/03/2015).
Selain tahlil dan pengajian, keluarga, masyarakat, pecinta dan pelaku
seni tradisional, prajurit atau bergodo dari sejumlah wilayah
Kulonprogo mengadakan kirab keliling menyusuri jalan desa hingga
akhirnya sampai makam Ki Hadi Sugito yang berada di sebelah barat
Masjid Muhajirin Tayuban. Di kompleks pemakaman tersebut keluarga
dipimpin adik almarhum Joko Sumitro dan didampingi Ki Sumbodo berdoa
yang kemudian prosesi dilanjutkan tabur bunga.
Pimpinan Sanggar Mardi Wirama sekaligus Ketua Panitia Bambang Sumbogo
mengungkapkan, serangkaian kegiatan budaya dan keagamaan peringatan
sewindu wafatnya Ki Hadi Sugito merupakan inisiatif warga setempat.
"Kami punya kewajiban moral mikul dhuwur mendhem jero (menghormati
orang tua atau pemimpin. red) apalagi pada masa mudanya almarhum
tinggal di Pedukuhan I Desa Tayuban," katanya.
Usai kirab prosesi dilanjutkan pementasan wayang kulit oleh adik
kandung, anak dan cucu Ki Hadi Sugito. Bagi keluarga, Ki Hadi Sugito
merupakan guru serta panutan masyarakat.
Sebelum meninggal Ki Hadi Sugito selalu berpesan kepada anak cucunya,
agar selalu belajar sungguh-sungguh. Dengan bersungguh-sungguh maka
apa pun pilihan yang dilakoni anak-anak dan putunya akan membuahkan
hasil maksimal.(Asrul Sani)
Share:

20 March 2015

Warga yang Menolak tetap Dilayani Haknya

Warga mengikuti tahap konsultasi publik pembangunan Bandara Kulonprogo di
Balaidesa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (25/11/2014).
(JIBI/Harian Jogja/Switzy Sabandar)

Warga mengikuti tahap konsultasi publik pembangunan Bandara Kulonprogo di
Balaidesa Jangkaran, Kecamatan Temon, Kulonprogo, Selasa (25/11/2014).
(JIBI/Harian Jogja/Switzy Sabandar)



Rabu, 18 Maret 2015 19:40 WIB | Switzy Sabandar/JIBI/Harian Jogja |
|



Bandara Kulonprogo, tim kajian keberatan dibentuk untuk memberikan
kesempatan bagi warga menyampaikan aspirasi.



Harianjogja.com, KULONPROGO-Terkait rencana Komnas HAM yang akan menemui
warga terdampak pembangunan bandara pada Rabu (18/3/201), Bupati Kulonprogo
Hasto Wardoyo mengatakan belum ada rencana bertemu dengan komisi tersebut.



"Akan tetapi, dinamika pembangunan bandara di Kecamatan Temon akan lebih
baik jika diketahui oleh banyak orang," ungkapnya, Selasa (17/3/2015).



Tim Community Development Pembangunan Bandara Baru Ariyadi Subagyo
menjelaskan rekapitulasi akhir konsultasi publik masih disusun. Sebab, masih
terdapat beberapa warga yang memberikan formulir konsultasi publik dengan
cara menyusul.



"Setelah selesai rekapitulasi, maka tahap selanjutnya adalah pembentukan tim
kajian keberatan oleh Gubenur DIY," ujarnya.



Ia menjabarkan tim kajian keberatan akan turun ke lapangan untuk melakukan
konfirmasi kepada warga yang keberatan dengan rencana pembangunan bandara.
Hal ini, imbuh Ariyadi, menunjukkan warga diberi hak dan ruang yang luas
untuk menyampaikan aspirasinya dalam proses pembebasan lahan bandara di
Kulonorogo.



Editor: Mediani Dyah Natalia
Share:

Kasus Begal Anggota Satpol PP Kulonprogo Dinilai Janggal

Begal di Kulonprogo yang menimpa anggota Satpol PP dinilai janggal dengan
berbagai alasan

Harianjogja.com, KULONPROGO-Kasus
<http://jogja.solopos.com/baca/2015/03/16/begal-di-kulonprogo-anggota-satpol
-pp-kulonprogo-jadi-korban-begal-585531
> pencurian dengan kekerasan yang
menimpa Subardiyanto,43, anggota Satpol PP Kulonprogo yang terjadi di Dusun
Kepek, Desa Pengasih, Kecamatan Pengasih, Minggu (15/3/2015) petang dinilai
janggal.

Hal itu terlihat dari senjata yang digunakan pelaku berupa sabit tumpul dan
kotor seperti habis digunakan di sawah. Demikian pula halnya dengan hasil
visum yang diajukan ke rumah sakit, bekas luka di tangan kiri bagian dalam
terlihat tidak pas jika digunakan untuk menangkis sabetan sabit pelaku.

Hal itu diungkapkan Kapolsek Pengasih Kompol Wakidjan saat ditanya perihal
kasus tersebut di Mapolsek Pengasih, Kamis (19/3/2015).

Kasus tersebut, kata dia, masih dalam penyelidikan dan terus dikembangkan.
Menurutnya, sabit yang digunakan pelaku bukan alat yang layak digunakan
untuk pelaku profesional.

"Tidak hanya itu, dilihat dari kondisi motor, korban seharusnya dapat
mengejar pelaku karena menggunakan Yamaha Vixion, sementara pelaku hanya
Honda Vario, tetapi masih kami kembangkan lagi penyelidikannya," ujarya.

Kasat Reskrim Polres Kulonprogo AKP Ricky Boy Sialagan mengatakan
penyelidikan masih berlanjut dengan mengumpulkan keterangan dari para saksi.
Dikatakannya, polisi belum dapat mengarah ke keterangan palsu karena masih
bergantung dari pemeriksaan lebih lanjut.

"Baru dapat disimpulkan setelah semua keterangan kami dapatkan," tuturnya.

Kepala Satpol PP Kulonprogo Duana Heru berencana untuk bertemu dengan
anggota yang bersangkutan untuk meminta penjelasan sekaligus mengklarifikasi
isu yang beredar di masyarakat terkait kejanggalan kasus tersebut. "Tetapi
untuk penyelidikan tetap ranahnya kepolisian," imbuh dia.

Editor: Nina Atmasari <http://jogja.solopos.com/baca/author/nina>
Share:

14 March 2015

Kulonprogo Juara Umum Tinju Popda DIY

WATES ( KRjogja.com)- Kontingen Kulonprogo meraih juara umum cabang
olah raga (cabor) tinju Pekan Olahraga Pelajar (Popda) DIY 2015.
Pertandingan disaksikan langsung Ketua BPO DIY, Ir Edy Wahyudi MM,
Kepala Dinas Pendidikan Kulonprogo, Drs Sumarsono dan KONI Kulonprogo.
Pada babak final yang digelar Jumat (13/3), di Panti Pelajar Wates,
kontingen Kulonprogo berhasil mendulang 4 medali emas, 1 perak dan 6
perunggu. Diurutan kedua, Bantul dengan 2 emas, 4 perak, 1 perunggu.
Kemudian Sleman harus puas di urutan ketiga dengan 1 emas, 2 perak, 2
perunggu, Disusul Kota Yogya 1 perak, 2 perunggu dan Gunungkidul 3
perunggu.
Empat medali emas Kulonprogo diraih petinjunya, Luis Wenda yang turun
dikelas 44 kg yang menang atas Simon Sakka (Bantul), kelas 49 kg
Valentino Ricky menang atas Rico Sanjaya (Kota), kelas 52 kg, Oriaman
Zega menang atas Abdul Rauf (Bantul) dan kelas 56 kg, Ignasius A
mengatasi Sahidin Falas (Sleman).
Petinju Kulonprogo lainnya yang turun dikelas bantam 46 kg, Irsan Medi
harus takluk ditangan Adhis Priyanto (Bantul).
Sementara itu di kelas 60 kg, petinju Bantul, Ignalius Bhismo meraih
emas setelah mengalahkan Delviq Gilang (Sleman). Kelas 64 kg, medali
emas direbut petinju Sleman, Jio Afriando setelah mengatasi perlawanan
Ariyanto Eko (Bantul).(*-32)
Share:

02 March 2015

Air Terjun Kembang Soka Butuh Sentuhan

KULONPROGO ( KRJogja.com) -Sebagai salah satu lokasi wisata baru di
Kulonprogo, air terjun Kembang Soka memang belum sepenuhnya dikelola
secara maksimal.
Sampai saat ini pengelolaan air terjun yang terletak diantara dua
dusun, yakni dusun Gunung Kelir dan dusun Kembang Soka, Jatimulyo,
Girimulyo, Kulonprogo, ini memang masih dilakukan secara swadaya oleh
penduduk desa setempat melalui Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis).
Tak seperti sejumlah lokasi wisata air terjun lain di sekitarnya
seperti Grojogan Sewu yang lebih dulu dibuka, air terjun Kembang Soka
terbilang masih minim fasilitas pendukung baik itu lokasi parkir,
kamar mandi umum, hingga tempat beristirahat serta akses jalan masuk
yang aman dan nyaman untuk dilalui.
"Air terjun ini memang baru sekitar dua bulan terakhir dibuka.
Sehingga sebenarnya secara fasilitas belum siap. Kita rencananya akan
membuat dan memperbaiki jalur akses masuk yang baru agar lebih mudah
dilalui. Namun sampai saat ini belum terlaksana karena banyaknya
pengunjung yang datang kesini," ujar Giyono (28) wakil ketua Pokdarwis
air terjun Kembang Soka.
Selain akses jalan, Giyono juga berencana membuat kamar mandi umum
bagi pengunjung karena sampai saat ini masih memanfaatkan milik salah
seorang warga sekitar yang menjadi tempat lokasi parkir. Terkair tiket
masuk, pihak pengelola sendiri secara swadaya mematok tiket sukarela
sebesar Rp3000 bagi setiap pengunjung.
"Dari awal dibuka pada Januari lalu, sampai saat ini sudah ada sekitar
10ribu lebih pengunjung yang datang ke air terjun Kembang Soka ini.
Rata-rata dalam satu hari ada sekitar 150 an pengunjung yang datang.
Sementara pada hari libur bisa melonjak hingg 800an-1000 orang
pengunjung per hari," katanya.
Untuk mencapai air terjun Kembang Soka sendiri pengunjung dapat
melalui rute Jalan Godean lurus ke barat- hingga sampai ke perempatan
Kenteng. Dari situ masih lurus ke barat ke arah goa Kiskendo hingga
sampai pasar Jonggrangan. Dari pasar itu kita tinggal mengikuti papan
penjunjuk jalan yang ada karena air terjun ini berada tak jauh dari
lokasi air terjun lainya seperti air terjun Grojogan Sewu, Taman Air
Mudal dll.(M-5)
Share:

11 February 2015

Tahun 2015, Dua Rusun Akan Dibangun

KULONPROGO ( KRjogja.com)- Tahun 2015 ini akan dibangun rumah susun
sederhana sewa (rusunawa) di Pedukuhan Gununggempal Desa Giripeni
Kecamatan Wates dan rusun buruh di Desa Tuksono Sentolo. Sebelumnya
juga sudah dibangun rusunawa di Triharjo Wates berlantai lima yang
saat ini sudah selesai pembangunan fisiknya dan tinggal pengerjaan
ipal komunalnya serta pemasangan lsitrik.
Kabid Cipta Karya Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kulonprogo Zahram
Asurawan ST MT menyatakan untuk rusunawa Gununggempal sudah dilakukan
lelang dan Surat Perintah Kerja (SPK)-nya sudah turun. Sekarang sudah
mulai pengerjaannya, yang diharapkan selesai sekitar bulan September
2015 mendatang.
Rusunawa berlantai lima di Gununggempal ini, kata Zahram, dana yang
disediakan sebesar Rp 13 Miliar dari APBN. Berdiri di atas lahan
5.000m2 dari 4,4 hektar yang disediakan dari tanah kas desa dengan 96
kamar dan 2 kamar untuk difabel.
"Sedangkan rusun buruh di Tuksono baru dilakukan cek lokasi dan belum
dilelang. Tapi akan dikerjakan tahun ini juga, sebab sudah ada MoU
antara Gubernur DIY, Menteri Perumahan, dan Menteri Tenaga Kerja.
Direncanakan akan dibangun dua yakni lantai lima dan tiga,"papar
Zahram, Selasa (10/02/2015).
Sementara untuk rusunawa Triharjo Wates pembangunan fisik sudah
selesai dan kini sedang dilakukan pengerjaan instalasi pengolahan air
limbah (ipal) komunal dan pemasangan listrik. Diharapkan bulan Juni
sudah bisa dihuni.(Wid)
Share:

BERITA KULON PROGO TERBARU

SITEMAP