Mohon perhatiannya, semua isi berita diblog ini adalah disalin dari berbagai sumber. Dan hanya sebagai arsip pribadi dan Group Komunitas Warga Kulon Progo.

Seluruh informasi termasuk iklan diblog ini bukan tanggung jawab kami selaku pemilik blog. Kami hanya Memberikan tempat kepada para pengiklan dan sebagai ,media sharing


 tarif jasa kami
KEMBALI KE HALAMAN AWAL – LC FOTOKOPI  *  TARIF JASA FOTOKOPI, PRINT, SCAN, KETIK, PRINT , DLL.   *   MELAYANI PRINT, PRINT COPY SECARA ONLINE


22 October 2014

jajaran kodim setempat sebagai ajang 'pamer kekuatan' memajang sejumlah alat utama sistem persenjataan (Alutsista)

WATES ( KRjogja.com)- Pameran pembangunan HUT ke-63 Kabupaten
Kulonprogo yang dikenal dengan sebutan Manunggal Fair kini berubah
jadi 'Kulonprogo Expo 2014' yang digelar pemkab setempat di Alun-alun
Wates dimanfaatkan jajaran kodim setempat sebagai ajang 'pamer
kekuatan' memajang sejumlah alat utama sistem persenjataan (Alutsista)
kendaraan tempur jenis Panhard dan meriam.
Kehadiran dua unit kendaraan tempur Kikavser Panhard milik Batalyon
Kavaleri Demak Ijo Yogya dan meriam tersebut menarik perhatian
pengunjung baik untuk mengenal lebih dekat maupun hanya sekadar
berfoto atau berselfie ria.
Panhard merupakan kendaraan tempur pengintai berbobot 3,5 ton lebih.
Dandim 0731/Kulonprogo Letkol SJ Aling menuturkan, bodynya yang
ramping membuat Panhard lincah bergerak menjelajahi medan tempur
dengan kecepatan hingga 90 km per jam. Ranpur buatan Perancis 1996 itu
masih dipakai TNI AD dalam menjaga kedaulatan NKRI. Selain di darat,
Panhard juga bisa dioperasikan di air dengan kecepatan hingga lebih
dari satu meter per detik.
Di sisi lain, Kodim 0731/Kulonprogo juga memamerkan dua unit meriam
105 milik Batalyon Armed Magelang. Meski senjata buatan Amerika itu
sudah tergolong tua, diproduksi 1976, tapi kehadirannya cukup disegani
musuh karena mampu meluncurkan tembakan dengan jarak sasaran hingga 11
kilometer. Disamping juga memiliki ketepatan sasaran karena
dioperasikan dengan sistem persenjataan.
"Kami sengaja memajang beberapa kendaraan tempur agar pengunjung
Kulonprogo Expo mengetahui tentang kendaraan perang TNI AD. Apalagi
persenjataan ini dibeli dari uang rakyat," tegas Lektol Inf SJ Aling,
Selasa (21/10/2014).
Pengunjung 'Kulonprogo Expo' Wahyu mengaku tertarik melihat-lihat
kendaraan tempur yang dipamerkan, karena selama ini dirinya belum
pernah melihat secara dekat peralatan perang tersebut. "Baru sekali
ini saya bisa pegang kendaraan tempur dan meriam," katanya usai
berpose dengan latar belakang Panhard dan meriam di depan Makodim
0731/Kulonprogo.
Selain bangga dengan kendaraan perang TNI, pengunjung juga merasa
senang mampir di stand Kodim 0731/Kulonprogo karena personel kodim
setempat selalu ramah melayani dengan menjelaskan secara rinci semua
kendaraan tempur yang dipamerkan.
"Saya jadi sedikit tahu tentang kendaraan tempur dan meriam setelah
mendapat penjelasan dari anggota Kodim khususnya tentang mekanisme dan
kemampuan senjata tersebut di medan perang," ujar Antok.(Rul)
Share:

26 September 2014

Tingkat partisipasi warga Kecamatan Temon Kulonprogo dalam mengikuti sosialisasi rencana pembangunan bandara tergolong tinggi.

Harianjogja.com, KULONPROGO-Data Tim Sosialisasi Pengadaan Bandara
Baru menyebutkan, warga yang datang ke sosialisasi mencapai 2.200
orang dari 2.800 undangan yang disebar.
Anggota Tim, Haryanto, mengatakan jumlah kehadiran warga pada hari
pertama sampai ketiga sosialisasi lebih dari 90%. Sosialisasi tersebut
sudah diadakan di Desa Sindutan, Palihan, dan Jangkaran pekan lalu.
"Sementara, kehadiran warga dalam sosialisasi di Glagah hanya separuh
atau 50%," ujarnya dalam jumpa pers, Selasa (23/9/2014).
Menurutnya, beberapa warga Glagah sempat mengirimkan pesan singkat
kepada Kepala Desa Glagah perihal ketidakhadiran mereka karena ruas
Jalan Daendels ditutup oleh sebagian warga yang menolak pembangunan
bandara.
"Sosialisasi ini baru tahap awal, yang penting pada tahap konsultasi
publik semua warga yang diundang harus datang," tegasnya.

Editor: Nina Atmasari
Share:

06 September 2014

Festival Kethoprak

Festival Kethoprak akan Digelar di Kulonprogo Harianjogja.com, KULONPROGO- Kesenian Ketoprak di Bumi Menoreh masih terus bertahan di tengah modernisasi. Dalam rangka untuk melestarikan kesenian tersebut, Pemerintah Kabupaten Kulonprogo akan menggelar Festival Kethoprak antar kecamatan.
Menurutt Asisten Sekda Bidang Perekonomian, Pembangunan dan SDA Kulonprogo Triyono, kegiatan tersebut akan sebagai upaya pembinaan untuk meningkatkan kreatifitas para pelaku seni di kabupaten ini. Kegiatan ini akan didanai oleh dana keistimewaan.


Pelaksanaan festival tersebut tersebar di masing-masing kecamatan. Tempat penyelenggaraan juga akan diserahkan ke tiap kecamatan, ujar Triyono dalam pernyataan persnya, Jumat (5/9/2014).
Bekerjasama dengan Dinas Kebudayaan, Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kulonprogo, festival itu akan diselenggarakan secara maraton mulai Sabtu (6/9/2014) hingga 17 September mendatang.
Penyelenggaraan pertama festival ini akan dimulai di Kecamatan Girimulyo, dilanjutkan Samigaluh, Kalibawang, Nanggulan, Sentolo, Lendah, Galur, Panjatan, Temon, Kokap, Wates, dan berakhir di Pengasih.




Editor: Nina Atmasari
Share:

Pameran Manunggal Fair Kulonprogo 2014

Pameran Manunggal Fair Kulonprogo 2014 segera Dibuka
Harianjogja.com, KULONPROGO. Pameran Manunggal Fair (PMF) 2014 yang akan digelar 17-25 Oktober mendatang, mulai diminati pelaku usaha di Kulonprogo. Pameran yang digelar tahunan ini memperlihatkan berbagai potensi yang ada di Bumi Menoreh.
Kepala Bagian (Kabag) TI dan Humas, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Kulonprogo, Rudy Widiyatmoko mengatakan setiap tahunnya pameran tersebut menjadi magnet bagi masyarakat dan dunia usaha yang ada di Kulonprogo. Pameran ini akan diselenggarakan di sekitar Alun-alun Wates.

Saat ini sudah ada masyarakat, baik dari Kulonprogo maupun luar kabupaten yang sudah menanyakan informasi tentang penyelenggaraan PMF 2014, ujar Rudy dalam rilis yang diterima Harian Jogja, Kamis (4/9/2014).
Melihat tingginya animo masyarakat dari dunia usaha untuk berpartisipasi dalam pameran tersebut, Pemkab Kulonprogo dan Perumda Aneka Usaha siap membuka pendaftaran minggu depan.

Pameran ini merupakan salah satu rangkaian kegiatan untuk memeriahkan Hari Jadi ke 63 Kulonprogo yang akan jatuh pada 15 Oktober mendatang. jelas Rudy. (hon)

Editor: Nina Atmasari
Share:

01 September 2014

NORMALISASI BBM BERSUBSIDI

Harianjogja.com, KULONPROGO-Pertamax tidak dipasok ke SPBU di Kulonprogo sejak Rabu (27/8/2014). Terbatasnya armada dari Pertamina karena sedang diprioritaskan untuk melakukan normalisasi premium di SPBU DIY disinyalir menjadi penyebabnya.Sukamto, pengelola SPBU Kedundang Temon, menuturkan, sudah tidak antrean panjang di SPBU Kedundang pada hari ini.“Semua sudah normal, pasokan premium kebali seperti semula, sesuai dengan permintaan SPBU,” ujarnya kepada Harian Jogja, Jumat (29/8/2014).Akan tetapi, kata dia, justru kali ini Pertamax yang sulit di pasaran. Menurutnya, hal ini bukan karena pembatasan atau kelangkaan pertamax, melainkan karena minimnya armada dari Pertamina yang digunakan untuk distribusi pertamax, mengingat premium masih menjadi prioritas untuk distribusikan.“Selama semua kembali normal dan masyarakat dapat mengakes premium dengan mudah, tidak terlalu masalah, bisa dimaklumi,” imbuh dia.Hal senada juga terjadi di SPBU Kalimenur Sentolo, sejak dua hari lalu tidak ada pasokan Pertamax ke SPBU tersebut. Pengawas SPBU Kalimenur Budi Santoso mengungkapkan, dari informasi yang diperolehnya, pasokan pertamax untuk SPBU di Kulonprogo diambil dari Semarang.“Saya kurang tahu alasannya, kemungkinan karena yang di depo Rewulu kosong juga,” kata dia.Kendati demikian, ia menilai hal tersebut tidak terlalu menyulitkan konsumen selama pasokan premium lancar. Saat ini, tambahnya, pengunjung SPBU sudah kembali normal dan tidak berjubel seperti kemarin. (Switzy Sabandar)Editor: Mediani Dyah Natalia
Share:

FKY 2014 Kulonprogo Meriah

arianjogja.com, KULONPROGOâ€" Parade Gejog Lesung memeriahkan pembukaan rangkaian Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) di Kulonprogo, Jumat (29/8/2014). Kesenian yang menjadi salah  satu ikon seni Kulonprogo ini dilakukan oleh ratusan penggejog dari 12 kecamatan.Ratusan ibu-ibu tani berpakaian tradisional tampil kompak saat menggejog lesung. Alat yang selama ini dikenal sebagai penumbuk padi itu berubah fungsi menjadi kesenian yang unik dan khas masyarakat tani di masa lampau. Meski lesung tak lagi digunakan sebagai penumbuk padi, tetapi, alat yang terbuat dari kayu itu masih dilestarikan hingga saat ini sebagai salah satu kesenian rakyat khas Bumi Menoreh ini.Suara khas gejog lesung memecah keramaian pembukaan FKY di Kulonprogo. Ketua Umum FKY Kulonprogo Joko Mursito mengatakan ada kurang lebih 124 penggejlog atau penumbuk padi yang tampil dalam pembukaan ini.“Parade Gejog Lesung ini melibatkan ratusan penggejog dan ada 24 gejog lesung yang dimainkan,” ujar Joko di sela acara.Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kulonprogo Eko Wisnu Wardhana mengatakan festival ini merupakan sinergisitas antara Pemerintah DIY melalui Dinas Kebudayaan dengan memanfaatkan dana keistimewaan. Di mana dana ini diperuntukkan sebagai pendukung kegiatan pengembangan, pembinaan serta pelestarian seni dan budaya, baik tradisional maupun kontemporer yang ada di Kulonprogo ini.“Selain itu, kegiatan ini juga dapat turut mengangkat karya-karya seni baru yang diciptakan seniman-seniman Kulonprogo. Di samping itu dapat menjadi media informasi, promosi maupun hiburan bagi warga Kulonprogo,” papar Eko.Parade Gejog Lesung tak hanya menjadi kesenian rakyat yang dimiliki Kulonprogo. Ratusan penari Tari Angguk tampil lemah gemulai dan lincah mengawali karnawal budaya. Ada kurang lebih 100 penari dari puluhan kelompok Tari Angguk asal Kulonprogo. Dalam karnaval ini setiap kecamatan juga menampilkan potensi seni tradisional maupun kontemporer unggulannya.Penyelenggaraan festival ini akan digelar selama enam hari hingga Rabu (3/9/2014). Setidaknya ada 4.000 seniman yang akan tampil  memeriahkan festival kesenian ini. Ribuan seniman tersebut berasal dari 12 kecamatan yang ada di daerah ini.Editor: Mediani Dyah Natalia
Share:

Mesin rusak airku terhenti

Harianjogja.com, KULONPROGO-Mesin produksi air mineral dalam kemasan milik Kulonprogo AirKu rusak sejak Selasa, (26/8/2014). Akibatnya, tidak ada produksi AirKu sampai dengan hari ini. Persediaan di pasaran pun kian menipis dan dikhawatirkan jika hal ini berlangsung lama akan mengganggu kegiatan di lingkup Pemkab Kulonprogo yang berlandaskan bela-beli Kulonprogo.Kepala Unit PDAM Tirta Binangun Clereng Susanto membenarkan produksi AirKu terhenti sejak empat hari lalu karena mesin produksi tidak bisa beroperasi. Kerusakan suku cadang mesin, kata dia, menyebabkan mesin perekat penutup gelas tidak menghasilkan panas sehingga tidak dapat berfungsi.“Ada suku cadang yang harus diganti sebab alat mesin perekat tutup air mineral tidak lagi panas dan tidak bisa digunakan sebagaimana mestinya,” ujarnya, Jumat (29/8/2014).Dijelaskannya, hal ini sudah dilaporkan ke PDAM Tirta Binangun dan sedang dalam proses memesan onderdil dari Surabaya. Ia juga tidak mengetahui secara pasti kapan suku cadang tersebut akan dikirim ke Kulonprogo. Ia mengakui kerusakan mesin ini baru pertama kali terjadi sepanjang produksi AirKu. AirKu yang diluncurkan pada tahun lalu rata-rata diproduksi 100 dus per hari dan dipasarkan melalui PD Aneka Usaha.Bagian Pemasaran PD Aneka Usaha Suparman menyebutkan sudah tiga hari tidak mendapatkan pasokan AirKu. Menurut kabar yang diterimanya, produksi AirKu terhenti karena mesin rusak. Sampai dengan hari ini, terangnya, masih tersisa 30 dus AirKu yang masing-masing berisi 48 gelas air mineral ukuran 200 mililiter.“Kalau untuk disetor ke 13 agen yang terdapat di 12 keecamatan sudah tidak memungkinkan, jadi kami memilih untuk menunda distribusi ke agen-agen sampai produksi kembali normal,” jelasnya.Ia juga tidak menampik, beberapa agen sudah kehabisan persediaan AirKu, namun PD Aneka Usaha juga tidak dapat berbuat apa-apa karena bergantung pada pasokan dari Clereng. Terkait kerugian, ia memperkirakan penurunan omzet mencapai jutaan rupiah mengingat satu dus AirKu dijual seharga Rp15.000 sampai Rp17.000 ditingkat eceran.Kepala PDAM Tirta Binangun Kulonprogo Jumantoro mengatakan perbaikan mesin produksi AirKu bergantung dari ketersediaan suku cadang yang sedang dipesan di Surabaya. Keberadaan mesin yang spesifik mengakibatkan suku cadang sulit dicari.Editor: Mediani Dyah Natalia
Share:

Peminat rusunawa mayoritas PNS

Harianjogja.com, KULONPROGO- Rumah susun sederhana sewa (Rusunawa) di Kulonprogo mulai diserbu calon penyewa. Rusunawa yang berada di Desa Triharjo, kecamatan Pengasih tersebut mulai banyak dilirik Pegawai Negeri Sipil (PNS).“Saat ini jumlah pendaftar rusunawa ada 200an lebih. Sedangkan yang sudah mengembalikan di DPU baru 20 orang,” ujar Kabid Ciptakarya Dinas Pekerjaan Umum (DPU) Kulonprogo Zahram Asurawan, Jumat (29/8/2014) di kantornya.Zahram mengatakan pengambilan formulir sewa rusunawa ini tidak hanya dilayani di DPU saja. Tetapi juga dapat diambil di kantor-kantor desa atau kecamatan.“Saat ini sebagian besar PNS yang mengambil formulirnya. Tapi kebanyakan diambil untuk saudara,” imbuh Zahram.Rusunawa yang dibangun dengan dua blok ini berkapasitas 196 kamar dengan tipe 45. Setiap kamar sudah terdiri dari satu kamar tidur, ruang tamu, dapur, satu kamar mandi dan tempat jemuran. Terdiri dari lima lantai, di mana lantai satu ada beberapa kamar yang ditujukan untuk penyandang disabilitas.“Pembangunan fisik sudah selesai, tinggal pemasangan instalasi listrik dan saluran air bersihnya. Targetnya bulan Januari tahun depan rusunawa ini sudah bisa dihuni,” jelas Zahram.Sewa rusunawa tersebut per bulan dikenakan biaya dengan batas bawah Rp100.000 dan batas atas Rp200.000. Mekanisme pembayaran pertama dibayar untuk dua bulan ke depan. Listrik yang dipasang menggunakan listrik pulsa, sehingga penggunaannya dapat dikontrol sendiri oleh penyewa.“Uang sewa ini nantinya juga tidak akan masuk sebagai pendapatan daerah. Tetapi akan dikembalikan sebagai dana pemeliharaan rusunawa,” jelas Zahram.Rusunawa ini dibangun dari anggaran Kementerian Pekerjaan Umum. Anggaran yang dikeluarkan untuk proyek ini mencapai Rp27 miliar. Bupati Kulonprogo Hasto Wardoyo menambahkan pembangunan rusunawa ini ditujukan untuk masyarakat berpenghasilan rendah (MBR). Penghasilan perbulan maksimal tidak lebih dari Rp2 juta per bulan.“Kami berharap warga yang belum memiliki rumah, atau rumah yang ditempati tidak layak huni dapat memanfaatkan rusunawa ini, ujar Hasto.Editor: Mediani Dyah Natalia
Share:
Harianjogja.com, KULONPROGO-Perhelatan Festival Kesenian Yogyakarta (FKY) sekarang ini berbeda karena mendapat sokongan dana keistimewaan (danais). Anggaran dengan nominal yang besar ini sempat membuat pemerintah kabupaten shock.  Ada perasaan takut dan juga tertantang untuk menggelar acara yang bagus serta memuaskan warga.“Kami cukup shock setelah tahu dananya sebesar itu. Perlu hati-hati dalam pengelolaan. Untuk itu kami berusaha memberikan penampilan yang dapat memuaskan bagi warga kami,” jelas Kepala Dinas Kebudayaan, Pariwisata, Pemuda dan Olahraga (Disbudparpora) Kulonprogo Eko Wisnu Wardhana, Jumat (29/8/2014).Menurut Eko penyelenggaraan FKY di daerah ini mendapat anggaran Rp1 miliar untuk perhelatan selama enam hari yakni Jumat (29/8/2014) hingga Rabu (3/9/2014). Pengalokasian anggaran sebesar itu dengan alasan FKY kali ini melibatkan ribuan seniman.“Tantangan kami adalah bagaimana agar pengelolaan dana tersebut dapat optimal agar dana yang digunakan tepat sasaran,” tambah Eko.Sejak 1994 sebenarnya Kulonprogo sudah terlibat dalam perhelatan FKY. Namun, anggaran selalu dari Pemerintah Provinsi DIY dan FKY hanya digelar di Kota Jogja.“FKY terkesan hanya milik orang Kota Jogja. Karena yang di daerah hanya mengirimkan perwakilan,”  ujar Kepala Bidang Kebudayaan Disbudparpora Kulonprogo Joko Mursito, Jumat, di sela-sela acara karnaval budaya pembukaan FKY Kulonprogo di Alun-alun Wates.Seiring dengan dikukuhkannya undang-undang keistimewaan, ada angin segar untuk memperkenalkan potensi seni di daerah. Melalui dana keistimewaan, Kulonprogo dapat menyelenggarakan sendiri event kesenian DIY dengan menampilkan potensi-potensi seni yang ada. Karena pada penyelenggaraan sebelumnya, Pemkab Kulonprogo hanya mengirimkan perwakilan untuk tampil di Jogja.“Selama ini FKY hanya seperti pesta seninya Kota Jogja saja. Kami dulu hanya kirim perwakilan ke sana, tapi setelah didanai danais, kami bisa menyelenggarakan sendiri. Sehingga tidak ada lagi kesan FKY hanya milik Jogja, tapi milik seluruh warga DIY,” jelas Joko.Editor: Mediani Dyah Natalia
Share:
WATES ( KRjogja.com)- Warga miskin yang belum memiliki tempat tinggal
layak dan sehat di Kecamatan Lendah hingga saat ini jumlahnya relatif
masih banyak. Jika diprosentase, ada sekitar 15,5 % dari seluruh
jumlah penduduk Lendah atau 5.500 jiwa yang masih hidup dalam
kemiskinan.
Meski upaya pengentasan kemiskinan terus dilakukan Pemkab Kulonprogo
dan Kecamatan setempat bersama dinas/ instansi serta pihak swasta,
tapi hal tersebut belum mampu melepaskan 2002 Kepala Keluarga dari
garis kemiskinan.
"Berbagai upaya yang telah kami lakukan memang belum bisa mengurangi
angka kemiskinan secara signifikan dan dalam waktu cepat. Karena itu
kami mengimbau sekaligus mengajak semua pihak terus meningkatkan rasa
kepedulian dan kesetiakawanan sosial memberikan berbagai bantuan,
sehingga warga miskin bisa punya rumah layak huni," kata Camat Galur
Latnyana disela bedah rumah milik Reza Pujiwati (32) warga Sorogaten
Desa Karangsewu, Minggu (31/8/2014).

Selain di Galur, bedah rumah rangkaian kegiatan Gerakan Gotong Royong
Rakyat Bersatu (Gentong Rembes) bermakna kaum mampu membantu warga
miskin juga diadakan di Pedukuhan Pengkol Desa Gulurejo, Lendah yakni
rumahnya Tumini dan Suratmi di Desa Kulur Kecamatan Temon.
Bupati dr Hasto didampingi Wabup Sutedjo menyampaikan apresiasi dan
terima kasih pada perusahaan pembuat ramput palsu PT Sung Chang
Indonesia (SCI), Komunitas Masyarakat Korea Yogya serta Wonkwang
University Jenju Korea Medicine Hospital diwakili dr Joo telah
mengulurkan tangan memberi bantuan.
"Bedah rumah kali ini luar biasa karena bantuan tidak hanya dari
Kulonprogo tapi datang dari sebuah Universitas di Korea. Dengan adanya
kepedulian pihak lain sangat membantu warga miskin memiliki rumah
sehat layak huni," ujarnya.
Bantuan pembangunan tiga rumah di Galur, Lendah dan Temon berasal dari
Bazda Kulonprogo Rp 10 juta dan Bazcam masing-masing. "PT SCI,
Komunitas Masyarakat Korea Yogya dan Wonkwong University Jenju Korea
Medicine Hospital membantu Rp 9 juta plus 30 zak semen," kata Vice
President PT SCI Cho Yong Chae didampingi Manajer Gee Kue Teag.
Kabag Kesra Setda Kulonprogo Arif Prastowo mengatakan bantuan juga
dari masyarakat setempat Rp 3,5 juta, RSUD Wates, SMP 2 Galur,
Pengurus NU dan Muhammadiyah Galur serta sejumlah Dinas.(Rul)
Share:

BERITA KULON PROGO TERBARU

SITEMAP